Langkah Norges Bank yang mengamankan kepemilikan 7,3 juta saham di SpaceX turut memicu pergeseran cara pandang pasar terhadap masa depan korporasi besutan Elon Musk tersebut. Kini, analisis terhadap SpaceX tidak lagi terbatas pada bisnis peluncuran roket dan layanan internet satelit Starlink konvensional. Diskusi mengenai valuasi perusahaan kini bergeser ke arah integrasi kecerdasan buatan (AI), potensi pusat data orbital, serta dampak akuisisi platform pengembang kode, Cursor.

Lembaga keuangan global Morgan Stanley mempertahankan peringkat Overweight untuk saham SpaceX dengan target harga dasar sebesar USD 300. Namun, dalam skenario paling optimistis (bull case), target harga saham diproyeksikan dapat menyentuh USD 600. Jika angka ini tercapai, valuasi pasar SpaceX akan melambung hingga USD 8 triliun, menjadikannya salah satu perusahaan publik terbesar di dunia secara teori, meskipun jalan menuju target tersebut sangat bergantung pada unit bisnis baru yang belum beroperasi dalam skala penuh.

Starship menjadi elemen krusial dalam merealisasikan proyeksi optimistis tersebut. Morgan Stanley memperkirakan bahwa sistem roket yang dapat digunakan kembali sepenuhnya ini mampu menekan biaya pembangunan infrastruktur komputasi di orbit secara drastis hingga setengah dari biaya saat ini. Keberhasilan Starship diharapkan tidak hanya menciptakan nilai komersial dari peluncuran roket secara mandiri, melainkan juga menumbuhkan ekosistem ekonomi baru di luar angkasa.

Pilar pertumbuhan kedua bersumber dari perluasan pasar Starlink. Jaringan satelit ini diproyeksikan tidak hanya melayani konektivitas rumah tangga dan korporat, tetapi juga mesin otonom berbasis AI. Dalam jangka panjang hingga tahun 2040, miliaran robot otonom diperkirakan akan saling terhubung melalui Starlink. Hal ini berpotensi mengubah lanskap bisnis Starlink menjadi penyedia infrastruktur komunikasi global bagi perangkat pintar lintas sektor.

Langkah strategis SpaceX semakin diperkuat oleh akuisisi Cursor senilai USD 60 miliar, sebuah transaksi berbasis saham yang dijadwalkan rampung pada akhir Agustus. Platform AI yang membantu proses pengodean ini telah digunakan oleh puluhan ribu perusahaan global. Kolaborasi erat antara kedua entitas telah terwujud melalui pelatihan model Grok 4.5, yang diharapkan dapat mempercepat komersialisasi teknologi AI milik SpaceX.

Kendati memiliki prospek menjanjikan, SpaceX masih berada dalam fase ekspansi padat modal yang menuntut investasi besar. Meskipun pendapatan mencatat pertumbuhan tahunan (CAGR) sekitar 15,4 persen dalam dua tahun terakhir, margin operasional dan rasio pengembalian ekuitas (ROE) perusahaan masih berada di teritori negatif. Dengan liabilitas jangka pendek mencapai USD 24,4 miIiar, kemampuan perusahaan untuk mengonversi pertumbuhan menjadi arus kas berkelanjutan akan menjadi ujian fundamental bagi para investor di masa depan.