PT Freeport Indonesia memproyeksikan kontribusi finansialnya terhadap penerimaan negara akan mengalami penurunan cukup signifikan pada tahun 2026. Estimasi setoran dari raksasa tambang ini diperkirakan merosot hingga 39,5 persen menjadi US$ 2,6 miliar, setelah sebelumnya mampu mencatatkan realisasi kontribusi sebesar US$ 4,3 miliar pada tahun 2025.

Penurunan tajam dalam proyeksi pendapatan negara tersebut dipicu oleh belum pulihnya aktivitas produksi di kawasan tambang Grasberg. Operasional di area tambang terbuka tersebut sempat terganggu akibat bencana tanah longsor, yang hingga kini dampaknya masih memengaruhi kapasitas produksi bijih tembaga dan emas perusahaan.

Di sisi lain, situasi ini terjadi di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang moderat. Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada di kisaran 5,1 persen, yang mempertegas pentingnya pemulihan sektor komoditas strategis demi menjaga stabilitas fiskal negara.