Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan para pelaku industri di Indonesia agar mulai memetakan dan mengadopsi proyeksi teknologi masa depan. Langkah ini dinilai krusial guna mencegah investasi berskala besar yang telah dikucurkan menjadi sia-sia akibat perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan bahwa program hilirisasi serta industrialisasi di sektor pertambangan tidak boleh lagi bergantung pada teknologi jangka pendek. Menurutnya, pembangunan fasilitas industri atau pabrik membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun. Jika perencanaan hanya berbasis pada teknologi saat ini, fasilitas tersebut berisiko langsung usang begitu selesai dibangun karena kehadiran inovasi baru.

Arif menambahkan bahwa pesatnya perkembangan teknologi global menuntut rancangan riset dan desain pabrik hilirisasi melibatkan imajinasi futuristik, bukan sekadar memenuhi kebutuhan masa kini. Oleh karena itu, ia mendorong ekosistem industri pertambangan untuk melakukan pemetaan teknologi (forecasting) secara matang dengan target proyeksi hingga tahun 2035-2040.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara "BRIN Goes To Industry 5 (BGTI 5): Hilirisasi Riset dan Inovasi Sektor Pertambangan" yang berlangsung di Jakarta. Dalam forum tersebut, Arif menegaskan kesiapan BRIN untuk mengambil peran strategis dalam membantu sektor industri memetakan instrumen teknologi yang relevan bagi sektor pertambangan dan energi dalam beberapa dekade mendatang.

Melalui kolaborasi yang kuat antara lembaga riset dan pelaku usaha, proses hilirisasi mineral di dalam negeri diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Sinergi ini juga ditargetkan mampu meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global sekaligus memangkas ketertinggalan teknologi dari negara-negara maju.