Keputusan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Manuntung Sukses Balikpapan untuk menghentikan operasional bisnis jasa pandu dan tunda kapal akhirnya mendapat penjelasan resmi. Langkah taktis ini diambil guna menyelamatkan keuangan perusahaan dari potensi kerugian yang lebih besar akibat lonjakan biaya operasional.
Direktur Utama Perumda Manuntung Sukses, Andi Sangkuru, menjelaskan bahwa lini bisnis ini awalnya dirintis pada akhir tahun 2022 melalui kemitraan dengan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS). Pada fase awal, kerja sama menggunakan sistem bagi hasil yang dinilai aman karena meminimalkan risiko finansial bagi badan usaha milik daerah tersebut.
Kondisi pasar sempat menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2023, yang turut didorong oleh masifnya pengiriman logistik untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, memasuki tahun 2024, dinamika bisnis berubah drastis seiring dengan menurunnya arus kunjungan kapal serta meningkatnya jumlah operator kompetitor di perairan Teluk Balikpapan.
Titik kritis terjadi pada awal tahun 2025 saat skema kemitraan bagi hasil tidak lagi dapat diterapkan, sehingga memaksa Perumda untuk menyewa armada tugboat secara mandiri. Perubahan sistem sewa langsung ini memicu pembengkakan beban pengeluaran harian yang sangat signifikan, mulai dari tarif sewa kapal hingga pembelian bahan bakar industri.
Setelah mencatatkan defisit berturut-turut selama beberapa bulan, manajemen akhirnya memutuskan untuk menyetop total lini usaha pandu tunda ini pada Agustus 2025. Evaluasi kelayakan usaha menunjukkan bahwa mempertahankan bisnis ini hanya akan membebani kesehatan fiskal perusahaan daerah.
Andi juga membantah spekulasi publik yang menyebutkan bahwa unit usaha ini sempat menyumbang pendapatan kotor hingga Rp8 miliar per bulan. Menurutnya, data laporan keuangan internal menunjukkan angka yang jauh berbeda, dan penutupan bisnis ini murni didasarkan pada rasionalisasi bisnis demi menyelamatkan aset daerah.