Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak ragu melontarkan kritik tajam terhadap mantan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Sindiran itu disampaikan Trump segera setelah Starmer secara resmi mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya pada Senin (22/6).
Dalam sebuah acara di Ruang Oval, seperti dikutip dari Channel News Asia, Trump dengan blak-blakan menilai Starmer telah melakukan kesalahan fatal dalam mengelola dua isu krusial: energi dan imigrasi. Menurut Trump, Starmer seharusnya lebih bijak memanfaatkan sumber daya alam Inggris, terutama minyak dari Laut Utara, alih-alih mengandalkan impor energi dari Norwegia.
"Inggris memiliki bagian Laut Utara yang jauh lebih baik. Mereka tidak ingin melakukannya untuk tujuan lingkungan," ujar Trump, menyindir kebijakan energi hijau yang dianggapnya berlebihan. Ia juga menyebut kehadiran "kincir angin di mana-mana" sebagai simbol dari kebijakan energi yang keliru.
Kritik Trump tidak berhenti di soal energi. Ia juga menyentuh soal pertahanan dan aliansi. Trump mengungkapkan kekecewaannya atas sikap Starmer yang awalnya menolak permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militer Inggris di Siprus bagi operasi serangan terhadap Iran. Meskipun Starmer akhirnya mengalah, Trump menilai langkah itu "sangat menyakitinya".
Sebelum pengunduran diri resmi, Trump bahkan sudah memprediksi langkah Starmer melalui unggahan di Truth Social. Ia menyebut Starmer "mungkin teman saya" namun menilai pemimpin Inggris itu tidak cukup mendukung AS dalam isu NATO dan perang di Iran.
Di sisi lain, dalam pidato perpisahannya di depan Downing Street 10, Starmer menyatakan bahwa pengunduran diri diambil berdasarkan kepentingan negara dan setelah mendengar masukan dari partainya. Ia mengakui adanya keraguan dari Partai Buruh mengenai kelayakannya memimpin dalam pemilihan umum mendatang. "Saya menerima keputusan itu dengan lapang dada," kata Starmer.
Pengunduran diri Starmer menandai berakhirnya masa jabatannya di tengah sorotan internasional, sementara pernyataan Trump kembali menegaskan gaya diplomatiknya yang langsung dan kerap memicu kontroversi dalam hubungan AS-Inggris.