Fenomena culture run atau yang akrab disebut lari kalcer tengah mengalami lonjakan popularitas di Kota Denpasar. Aktivitas ini bukan sekadar berlari untuk menjaga kebugaran tubuh, melainkan telah berevolusi menjadi gerakan yang mengintegrasikan eksplorasi keindahan alam, penelusuran jalur-jalur bermuatan budaya, hingga aksi pemberdayaan masyarakat sekitar.
Salah satu komunitas yang menjadi motor penggerak tren ini adalah Pelari Kodya. Ketua komunitas tersebut, Ida Bagus Purwana Sara, mengungkapkan bahwa kelahiran Pelari Kodya justru bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Para anggotanya semula adalah individu-individu yang kerap berpapasan saat berlari secara mandiri di sejumlah lintasan populer Denpasar, mulai dari kawasan Sanur, Kertalangu, Renon, hingga Lapangan Puputan Badung.
"Awalnya kami sering ketemu di lintasan. Ternyata sudah saling kenal, lalu terpikir kenapa tidak kita gabung? Biar tidak sendiri-sendiri, kan perlu juga kita saling tukar informasi," tutur pria yang juga menjabat sebagai Camat Denpasar Selatan ini pada Minggu (28/6).
Titik balik terbentuknya komunitas ini terjadi ketika musibah banjir bandang melanda pada September 2025. Para pelari yang biasa bergerak secara individual spontan berkumpul untuk menggalang donasi bagi korban terdampak. Aksi solidaritas tersebut menjadi fondasi kuat bagi pendirian resmi Pelari Kodya pada akhir Oktober 2025. Kini, komunitas ini telah berkembang pesat dengan sekitar 150 anggota yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Denpasar serta warga masyarakat umum.
Sebagai komunitas yang bermarkas di ibu kota Provinsi Bali, Pelari Kodya secara aktif mengampanyekan semangat lari kalcer. Kegiatan mereka tidak hanya berorientasi pada kesehatan fisik, tetapi juga turut mendukung berbagai program pemerintah kota, termasuk memeriahkan festival-festival lokal. Melalui pemilihan jalur lari yang memiliki nilai estetika dan kearifan lokal, komunitas ini berupaya mengangkat potensi pariwisata daerah.
Beberapa trek favorit Pelari Kodya antara lain kawasan Sanur yang menyuguhkan panorama pantai serta matahari terbit yang ikonik, dan area subak-subak di tengah Kota Denpasar yang menawarkan hamparan hijau persawahan dengan suasana asri khas pedesaan. "Harapan kami, kita mengajak budaya hidup sehat untuk olahraga bersama, kemudian mempromosikan juga Kota Denpasar sebagai 'Kotaku Rumahku'," ungkap Purwana.
Geliat tren lari kalcer yang kian masif ini pun menarik perhatian para penyelenggara event lari. Triadi Resta, Race Director BPD Bali Culture Run 2026, melihat potensi komunitas pelari kalcer sangat besar. Hal ini dibuktikan melalui penyelenggaraan seri lari kalcer di Sanur pada Minggu (28/6), sebagai rangkaian menuju ajang BPD Bali Culture Run 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Juli di kawasan Peninsula, ITDC The Nusa Dua.
Triadi menjelaskan bahwa sebelumnya telah digelar tujuh seri di berbagai wilayah Bali, meliputi Denpasar, Tabanan, Gianyar, dan Badung, ditambah satu seri di Jakarta. Seri kedelapan yang dihelat di Sanur menjadi seri penutup paling spesial dan mendapat sambutan luar biasa dari komunitas pelari. "Hari ini yang pemungkas, yang terakhir, dan yang paling ramai," tuturnya.
Ajang ini menyediakan dua kategori lomba, yakni jarak 5 kilometer dan 10 kilometer, dengan target total 4.000 peserta. Antusiasme masyarakat terbukti sangat tinggi, terbukti dari tiket kategori 5K yang sudah habis terjual. Sementara untuk kategori 10K, hanya tersisa 200 slot menjelang penutupan pendaftaran pada 5 Juli 2026.
Dukungan terhadap tren ini juga datang dari sektor pariwisata. Made Sudiana, Resort Manager Sudamala Resort Sanur, menyampaikan bahwa pihaknya turut mendukung penyelenggaraan seri terakhir ini karena sejalan dengan konsep resort yang mengusung art, culture, dan sustainability. "Resort kami mengusung art and culture yang kuat sekali, terutama local culture, dan juga tentang keberlanjutan. Jadi kami mendukung kegiatan ini," jelasnya.
Sudiana menilai keterlibatan dalam ajang lari kalcer juga menjadi jembatan untuk memperkenalkan jaringan akomodasi yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti Sanur, Lombok, dan Flores. Meskipun belum memiliki komunitas pelari internal dan selama ini lebih memfasilitasi olahraga sepak bola serta bulu tangkis bagi karyawan, ia melihat peluang pembentukan komunitas lari di Bali sangat terbuka lebar.
"Di Sudamala Resort yang di Komodo, kita sempat men-support Komodo Run. Di sana para staf ikut bergabung di Komodo Runner," cerita Sudiana. Berkaca dari pengalaman tersebut dan melihat antusiasme masyarakat terhadap lari kalcer, ia optimistis untuk segera mewujudkan komunitas serupa di Bali sebagai wadah bagi staf maupun tamu resort yang gemar berlari.