European Space Agency (ESA) merilis citra terbaru pusat Galaksi Bimasakti yang ditangkap oleh teleskop antariksa Euclid. Foto tersebut memperlihatkan kawasan padat bintang di tonjolan galaksi atau galactic bulge, wilayah yang selama ini dikenal sulit diamati karena tingkat kepadatan objek langitnya sangat tinggi.
Citra yang diumumkan pada 24 Juni 2026 itu menjadi perhatian para astronom bukan hanya karena keindahan visualnya, tetapi juga karena nilai ilmiahnya. Euclid, yang semula dirancang untuk mempelajari alam semesta gelap atau dark universe, berhasil memberikan gambaran rinci tentang bagian tengah Bimasakti setelah diarahkan untuk mengamati area tersebut.
Tonjolan galaksi merupakan wilayah menonjol di pusat Bimasakti yang dipenuhi jutaan bintang. Kepadatan ini membuat pengamatan menjadi rumit, sebab cahaya dari banyak objek saling bertumpuk dan menyulitkan ilmuwan membedakan satu sumber cahaya dengan sumber lainnya.
Data awal dari Euclid dinilai akan sangat berguna bagi misi NASA berikutnya, yakni Nancy Grace Roman Space Telescope. Teleskop tersebut dijadwalkan menjalankan misi selama lima tahun untuk memetakan perubahan bintang dan objek langit lain di sebagian kecil kawasan tonjolan galaksi.
Dengan adanya citra pendahuluan dari Euclid, para peneliti memiliki konteks tambahan sebelum Roman mulai mengumpulkan data secara lebih intensif. Kombinasi pengamatan dari dua teleskop ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman ilmuwan mengenai struktur, dinamika, dan sejarah pembentukan pusat Bimasakti.
Jason Rhodes, ilmuwan riset senior di Jet Propulsion Laboratory NASA, California Selatan, menyebut citra Euclid akan memperkuat survei Roman di masa mendatang. Menurutnya, tambahan data tersebut dapat membantu pemetaan galaksi serta memudahkan pencarian objek kosmik yang sulit dideteksi, termasuk lubang hitam terisolasi dan planet-planet pengembara.
Objek seperti lubang hitam terisolasi dan planet tanpa bintang induk umumnya sulit ditemukan karena tidak memancarkan cahaya seperti bintang. Karena itu, peta awal yang lebih rinci dari wilayah padat bintang menjadi bekal penting untuk mengenali perubahan kecil atau anomali dalam pengamatan berikutnya.
Temuan ini juga melengkapi studi sebelumnya mengenai fragmen fosil tonjolan galaksi, yang memberikan petunjuk tentang masa lalu Bimasakti. Melalui citra Euclid, para astronom memperoleh gambaran lebih jelas mengenai betapa kompleksnya kawasan pusat galaksi yang selama ini menjadi salah satu area paling menantang untuk diteliti.
Kolaborasi antara ESA dan NASA melalui pemanfaatan data Euclid dan Roman menunjukkan pentingnya kerja sama internasional dalam eksplorasi antariksa. Setiap misi dapat saling melengkapi, sehingga hasil pengamatan tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk gambaran yang lebih utuh tentang alam semesta.
Para ilmuwan kini akan terus menganalisis data Euclid sembari menunggu dimulainya pengamatan Roman. Jika berjalan sesuai rencana, gabungan informasi dari kedua teleskop tersebut dapat membuka peluang baru untuk memahami evolusi Bimasakti, populasi bintang di pusat galaksi, serta keberadaan planet-planet yang selama ini tersembunyi di antara lautan cahaya bintang.