Jakarta – Perkembangan teknologi kesehatan digital kian mengubah cara masyarakat menjaga kebugaran dan memantau kondisi tubuh. Di tengah meningkatnya usia harapan hidup, kehadiran perangkat pintar dinilai dapat membantu publik menjalani hidup lebih sehat dan mandiri.
Smartwatch, gelang kebugaran, hingga aplikasi kesehatan di ponsel kini banyak digunakan untuk membaca berbagai indikator tubuh. Melalui perangkat tersebut, pengguna dapat memantau detak jantung, pola tidur, aktivitas fisik, tingkat stres, hingga capaian olahraga harian secara lebih mudah.
Sejumlah kajian yang dipublikasikan National Library of Medicine menunjukkan teknologi digital berpeluang mendorong perubahan pendekatan layanan kesehatan. Jika sebelumnya layanan lebih banyak berfokus pada pengobatan setelah sakit, pemantauan digital membuka ruang lebih besar bagi langkah pencegahan sejak dini.
Manfaat itu terasa penting, terutama bagi kelompok lanjut usia. Dengan bantuan perangkat kesehatan digital, lansia dapat mengawasi kondisi tubuh dari rumah tanpa harus terlalu sering datang ke fasilitas kesehatan. Pemantauan rutin juga dapat membantu mereka tetap aktif sekaligus menekan risiko komplikasi penyakit kronis.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi kesehatan tidak sepenuhnya bebas risiko. Para pengguna perlu memahami bahwa data yang muncul di layar perangkat bukan satu-satunya ukuran kondisi kesehatan, apalagi bila tidak disertai penjelasan medis yang memadai.
Medical Futurist menyoroti fenomena yang disebut digital health anxiety, yakni kecemasan yang muncul karena seseorang terlalu terpaku pada data kesehatan digital. Dalam kondisi ini, angka-angka seperti skor tidur, detak jantung, atau statistik aktivitas justru dapat memicu kekhawatiran berlebihan.
Contohnya, seseorang yang bangun dalam kondisi segar bisa berubah merasa tidak bugar setelah melihat aplikasi pelacak tidur memberi nilai rendah. Persepsi terhadap tubuh pun dapat bergeser, meskipun sebelumnya tidak ada keluhan fisik yang dirasakan.
Hal serupa dapat terjadi saat berolahraga. Aktivitas yang semestinya dilakukan untuk menjaga kesehatan dan menikmati proses bergerak dapat berubah menjadi tekanan untuk memenuhi target tertentu, seperti jumlah langkah, kecepatan lari, atau zona detak jantung.
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa pemakaian smartwatch dan perangkat pelacak kesehatan pada sebagian orang dapat meningkatkan kecemasan. Hal ini terjadi karena pengguna terus memperhatikan perubahan kecil pada tubuh, padahal perubahan tersebut belum tentu menandakan masalah kesehatan.
Karena itu, teknologi kesehatan digital sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti penilaian tenaga medis. Pengguna disarankan tetap memperhatikan kondisi tubuh secara menyeluruh dan berkonsultasi dengan profesional kesehatan bila menemukan gejala yang mengganggu atau data yang sulit dipahami.