Indonesia kini berada di peringkat kelima dunia dalam jumlah penyandang diabetes, dengan prevalensi mencapai 11,7 persen pada penduduk usia 15 tahun ke atas. Di tengah tingginya angka tersebut, sebagian besar masyarakat justru baru menyadari kondisi mereka setelah penyakit ini memicu komplikasi serius. Fenomena ini erat kaitannya dengan minimnya pemahaman awal mengenai gejala dan faktor risiko diabetes.

Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD, mengungkapkan bahwa keterlambatan penanganan ini sebagian besar disebabkan oleh rendahnya tingkat literasi kesehatan masyarakat. Ia menyebutkan masih banyak individu yang menunda pemeriksaan medis atau menyangkal kondisi tubuh mereka, meski memiliki faktor risiko genetik maupun gaya hidup yang kurang sehat.

Menurut dr. Ida Ayu, mengadopsi gaya hidup sehat saja tidak menjamin seseorang terbebas dari risiko diabetes jika memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan sebaiknya tidak berhenti pada hasil angka kadar gula darah semata. Penting bagi setiap individu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis guna mengevaluasi faktor risiko lainnya secara komprehensif.

Beberapa gejala klasik diabetes yang sering diabaikan meliputi rasa haus yang berlebihan yang disertai dengan peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari. Gejala lainnya adalah rasa lapar yang terus menerus tanpa adanya kenaikan berat badan—bahkan berat badan cenderung menurun drastis—serta tubuh yang mudah lelah tanpa alasan yang jelas.

Sementara itu, dr. Selvinna, M.Biomed, selaku Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk, menegaskan bahwa penanganan diabetes memerlukan pendampingan jangka panjang yang konsisten dari fase deteksi hingga terapi. Senada dengan hal tersebut, Ketua Cabang PERSADIA Jakarta Barat, dr. Marshell Tendean, Sp.PD, menambahkan bahwa tantangan terbesar bagi pasien adalah mempertahankan kepatuhan terapi pascadiagnosis guna meminimalkan risiko komplikasi organ vital.