Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mulai mengoptimalkan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) bernama TBScreen.AI untuk mengakselerasi deteksi dini penyakit tuberkulosis (TB). Inovasi yang dikembangkan melalui kemitraan bilateral KONEKSI ini diproyeksikan mampu meningkatkan efisiensi skrining nasional secara signifikan, khususnya di wilayah-wilayah pelosok yang masih minim fasilitas kesehatan dan dokter spesialis radiologi.
Langkah ini diambil di tengah upaya keras pemerintah mengejar target penanganan TB. Berdasarkan data Kemenkes per akhir Juli 2026, capaian notifikasi kasus baru baru menyentuh angka 41 persen dari target 45 persen, sementara tata laksana pengobatan baru mencapai 89 persen dari target 95 persen. Kemenkes menegaskan pentingnya penemuan kasus secara cepat demi memutus rantai penularan penyakit yang menjadi salah satu prioritas program kesehatan nasional ini.
TBScreen.AI bekerja dengan menganalisis hasil foto rontgen dada pasien dalam waktu kurang dari lima detik. Keunggulan utama dari platform ini adalah perancangannya yang disesuaikan dengan keragaman demografi masyarakat Indonesia—mulai dari faktor usia, gender, ras, hingga aspek disabilitas—sehingga hasil pembacaan klinisnya diklaim lebih akurat dan relevan dengan kondisi lokal.
Pengembangan teknologi ini sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mendorong pemanfaatan perangkat lunak deteksi berbantuan komputer (CAD) untuk membantu menginterpretasikan hasil rontgen di daerah minim infrastruktur kesehatan. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada sistem luar negeri, dan kehadiran TBScreen.AI menjadi penanda awal kemandirian teknologi kesehatan digital di tanah air.
Peneliti utama dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati, menjelaskan bahwa saat ini akurasi sensitivitas platform telah mencapai 83,16 persen. Meski basis datanya masih didominasi oleh populasi dari Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Papua, tim peneliti berkomitmen untuk memperluas cakupan data dari provinsi lain serta mengembangkan versi luring (offline) agar aplikasi ini tetap berfungsi optimal di daerah tanpa akses internet.
Kehadiran inovasi lokal ini juga memberikan efisiensi anggaran karena pemerintah tidak perlu membayar biaya lisensi tahunan kepada pihak asing. Selain itu, keamanan data medis pasien lebih terjamin karena dikelola sepenuhnya di dalam negeri. Proyek kolaboratif ini melibatkan lintas sektor, termasuk Universitas Gadjah Mada, University of Melbourne, organisasi difabel SAPDA, serta YPKMP Papua, dengan dukungan penuh dari platform kemitraan Australia-Indonesia, KONEKSI.