Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara resmi membuka gelaran akbar The FORUM 2026 di Hotel Ambarrukmo, Yogyakarta, Kamis (6/8/2026). Pertemuan strategis yang berlangsung hingga 7 Agustus ini memfokuskan pembahasan pada peran ekosistem asuransi dalam membangun konektivitas baru dengan nasabah di era digital.

Dalam pidato pembukaannya, Sri Sultan menggarisbawahi bahwa hakikat dasar asuransi adalah instrumen kolektif untuk mengelola ketidakpastian dan memberikan rasa aman bagi masyarakat. Merujuk pada falsafah Jawa "eling lan waspada", beliau mengingatkan bahwa kesiapan menghadapi risiko masa depan harus diimbangi dengan kesadaran akan keterbatasan manusia, sehingga asuransi mampu mengonversi kecemasan menjadi ketahanan sosial.

Menyoroti penetrasi teknologi di sektor keuangan, Sultan mengingatkan agar inovasi digital tidak mengesampingkan martabat manusia dan perlindungan hak konsumen. Integrasi kecerdasan buatan (AI) maupun otomatisasi layanan harus berjalan selaras dengan prinsip kehati-hatian dan transparansi. Baginya, kepercayaan merupakan modal utama yang menjadi penentu utama dari keberlangsungan industri asuransi nasional.

Lebih lanjut, Raja Yogyakarta ini mendorong pelaku industri untuk memperluas jangkauan perlindungan ke sektor-sektor yang selama ini belum terlayani secara optimal. Kelompok pekerja informal, pelaku UMKM, petani, hingga nelayan diharapkan dapat memperoleh akses perlindungan yang setara demi memperkokoh fondasi ekonomi masyarakat bawah.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI), Dr. Robby Loho, menegaskan pentingnya akselerasi teknologi agar industri dalam negeri mampu bersaing di kancah ASEAN maupun global. Ia juga menyerukan pentingnya sinergi antarasosiasi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna menciptakan ekosistem bisnis yang bersih, profesional, dan bebas dari persaingan tidak sehat.