Menjaga pola tidur yang teratur ternyata tidak hanya berpengaruh pada tingkat kebugaran fisik, melainkan juga memegang peranan krusial dalam menjaga kesehatan sistem pernapasan manusia. Kurangnya waktu istirahat maupun kebiasaan tidur yang terlalu lama sama-sama berisiko memicu berbagai keluhan paru-paru, seperti batuk, mengi, hingga sesak napas.
Spesialis Paru dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Erlina Burhan, menekankan pentingnya durasi tidur yang cukup agar proses pemulihan organ tubuh dapat berjalan maksimal. Ia mengingatkan masyarakat untuk membatasi kebiasaan begadang maupun tidur berlebihan demi menjaga fungsi pernapasan tetap stabil.
Penjelasan ilmiah ini didukung oleh studi yang menganalisis data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) Amerika Serikat periode 2005–2012. Penelitian yang melibatkan 14.742 responden dewasa tersebut menemukan bahwa individu yang tidur dengan durasi ideal, yaitu 7 hingga 8 jam per malam, memiliki tingkat keluhan pernapasan yang jauh lebih rendah.
Sebaliknya, kurang tidur kronis dapat memotong waktu vital yang dibutuhkan tubuh untuk meregenerasi sel. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi menurunkan performa saluran pernapasan dan mempermudah timbulnya gangguan kesehatan pada paru-paru.