Sektor kecerdasan buatan (AI) global kembali diguncang oleh DeepSeek. Startup asal Hangzhou, China, ini kini ditaksir memiliki nilai valuasi mencapai 350,88 miliar yuan atau setara dengan Rp929 triliun. Angka fantastis tersebut terungkap setelah adanya keterbukaan informasi dari investor publik mengenai transaksi pendanaan eksternal perdana yang selama ini dirahasiakan oleh perusahaan.
Laporan dari produsen koper asal China, Anhui Korrun, kepada otoritas bursa memaparkan bahwa salah satu dana investasi yang mereka ikuti telah menyuntikkan 2,9 miliar yuan untuk mengamankan 0,8265 persen saham tidak langsung di DeepSeek. Transaksi yang diselesaikan pertengahan Juli 2026 ini secara tidak langsung mengonfirmasi proyeksi nilai kapitalisasi pasar raksasa teknologi baru asal Negeri Tirai Bambu tersebut.
DeepSeek mulai menarik perhatian industri teknologi dunia sejak awal tahun lalu berkat peluncuran model AI berbiaya rendah, V3 dan R1. Inovasi ini membuktikan bahwa perusahaan China mampu menyaingi dominasi korporasi teknologi Amerika Serikat (AS), meskipun Washington terus memperketat pembatasan ekspor cip semikonduktor canggih ke China.
Sebelumnya, DeepSeek dikenal sangat tertutup dan menolak pendanaan dari luar. Perusahaan yang didirikan oleh Liang Wenfeng ini awalnya hanya mengandalkan aliran dana dari High-Flyer, sebuah perusahaan hedge fund kuantitatif milik sang pendiri. Namun, tingginya kebutuhan modal untuk meningkatkan kapasitas komputasi dan merekrut talenta terbaik memaksa DeepSeek untuk mengubah strategi pendanaannya.
Selain Anhui Korrun, Jiuan Medical juga dilaporkan menanamkan modal sebesar 750 juta yuan melalui Shixiang Capital untuk mendapatkan kepemilikan tidak langsung sebesar 0,21 persen. DeepSeek kini dikabarkan tengah mempersiapkan putaran pendanaan berikutnya dengan target penggalangan dana mencapai 50 miliar yuan, yang diproyeksikan akan mendongkrak valuasinya hingga 500 miliar yuan.
Langkah agresif DeepSeek tidak berhenti di situ. Perusahaan perintis AI ini dikabarkan sedang bersiap untuk melantai di Shanghai STAR Market dan menargetkan pengajuan penawaran umum perdana saham (IPO) pada akhir tahun ini. Langkah ini dinilai krusial demi menopang biaya operasional pengembangan teknologi AI generatif yang terus membengkak.