Kementerian Perindustrian (Kemenperin) resmi memulai program pembinaan Creative Business Incubator (CBI) 2026 demi memacu pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di sektor fesyen serta kriya agar naik kelas. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat daya saing produk lokal di tengah ketatnya persaingan pasar global sekaligus memperkokoh rantai pasok industri dalam negeri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa tantangan industri kreatif saat ini bukan sekadar melahirkan wirausaha baru, melainkan memastikan keberlanjutan bisnis mereka. Menurutnya, program pendampingan dan bimbingan (mentorship) memegang peranan krusial dalam membentuk mentalitas wirausaha yang tangguh dan adaptif terhadap dinamika pasar.
Data Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) mencatat kinerja sektor fesyen dan kriya terus menunjukkan tren positif. Pada triwulan pertama tahun 2026, kontribusi PDB dari sektor ini mencapai Rp120,13 triliun, tumbuh sebesar 7,89 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya. Kinerja ekspor pun mencatatkan angka yang signifikan pada awal tahun ini, mempertegas potensi besar komoditas lokal di kancah internasional.
Dirjen IKMA Reni Yanita mencontohkan keberhasilan sejumlah alumni CBI terdahulu yang mampu memperluas jangkauan pasar hingga ke mancanegara. Salah satunya adalah Seminyak Leather asal Bali yang berhasil mengekspor produk kulitnya ke Amerika Serikat dan Eropa, serta jenama Rappo asal Makassar yang sukses berkolaborasi dengan maskapai nasional melalui inovasi produk ramah lingkungan berbasis daur ulang plastik.
Sementara itu, Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) Dickie Sulistya Apriliyanto menjelaskan bahwa pendaftaran CBI 2026 dibuka secara daring hingga 14 Agustus 2026. Melalui seleksi ketat, para peserta terpilih akan mendapatkan pembekalan intensif mengenai manajemen operasional, standarisasi produk, hingga kesempatan melakukan presentasi bisnis di hadapan para investor di Bali.