Sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Barat dilaporkan mengalami kerusakan signifikan menyusul serangan balasan yang diluncurkan oleh militer Iran. Bukti kerusakan tersebut terungkap melalui publikasi citra satelit oleh sejumlah sumber intelijen sumber terbuka militer (OSINT) baru-baru ini.
Laporan dari Press TV mengonfirmasi bahwa kerusakan menyasar fasilitas militer vital AS yang tersebar di Yordania, Qatar, Bahrain, dan Kuwait. Di Pangkalan Udara Prince Hassan, Yordania, sebuah hanggar yang menampung pesawat nirawak canggih MQ-4C Triton tampak hancur. Kerusakan juga terdeteksi di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, yang dikenal sebagai instalasi militer terbesar milik Washington di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, citra satelit mendeteksi kerusakan pada gudang penyimpanan logistik di Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. Kobaran api hebat juga dilaporkan melanda pangkalan yang mengoperasikan sistem roket artileri mobilitas tinggi (HIMARS). Rentetan serangan ini dipicu oleh tuduhan Teheran terhadap AS yang dinilai berulang kali melanggar kedaulatan wilayah Iran pasca-deklarasi gencatan senjata sepihak oleh Presiden Donald Trump pada April 2026.
Ketegangan ini terus memanas meski kedua belah pihak sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan guna menghentikan segala bentuk agresi. Sebagai langkah balasan, Iran kini menerapkan doktrin militer baru, yakni menyerang minimal dua target musuh untuk setiap satu serangan terhadap fasilitasnya. Bersamaan dengan itu, Teheran memblokir total pelayaran internasional di Selat Hormuz hingga militer AS menghentikan seluruh aktivitas intervensinya di kawasan tersebut.