Bursa saham Jepang mencatatkan koreksi tajam pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026). Indeks acuan Nikkei 225 merosot hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir, terseret oleh aksi jual masif pada sektor teknologi dan industri semikonduktor.

Berdasarkan data perdagangan, indeks Nikkei 225 ditutup melemah 930,73 poin atau terkoreksi sebesar 1,49 persen ke level 61.434,19. Penurunan ini memperpanjang tren negatif dari hari sebelumnya yang berada di posisi 62.364,92. Sepanjang hari, indeks sempat berfluktuasi dari level pembukaan 62.734,68, sempat menguat ke titik tertinggi harian di 63.138,04, sebelum akhirnya tertekan ke posisi terendah harian di 60.448,90.

Kelesuan di pasar modal Tokyo ini dipicu oleh kecemasan pelaku pasar global terhadap lambatnya realisasi profit dari investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, saham-saham raksasa teknologi Jepang mengalami koreksi signifikan. Screen Holdings memimpin kejatuhan dengan penurunan tajam sebesar 17,25 persen, disusul oleh Kioxia Holdings yang anjlok 13,94 persen, serta raksasa cip Tokyo Electron yang melemah 10,18 persen.

Tekanan ini juga merupakan imbas dari melemahnya indeks semikonduktor di bursa Amerika Serikat semalam, yang kemudian menciptakan efek domino ke bursa regional Asia seperti indeks Kospi di Korea Selatan. Meskipun sempat anjlok lebih dari 3 persen pada pertengahan sesi, aksi perburuan saham murah (bargain hunting) oleh investor domestik di akhir perdagangan berhasil meredam kejatuhan yang lebih dalam.