Di tengah kepungan teknologi digital dan paparan gawai yang kian masif pada anak-anak, pelestarian permainan tradisional kini menjadi fokus perhatian pemerintah. Langkah ini dinilai krusial untuk mengembalikan ruang interaksi sosial nyata bagi generasi muda sekaligus membentuk karakter bangsa sejak usia dini.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan bahwa permainan rakyat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan instrumen penting dalam pemajuan kebudayaan nasional. Melalui aktivitas fisik ini, anak-anak diajarkan untuk saling bekerja sama, mengasah kejujuran, serta memupuk semangat gotong royong yang mulai pudar di dunia virtual.

Sebagai wujud komitmen nyata, Kementerian Kebudayaan saat ini tengah menyusun dokumentasi dan registrasi ribuan jenis permainan rakyat dari berbagai penjuru tanah air. Pemerintah bahkan merencanakan pembangunan sebuah museum khusus permainan tradisional Indonesia guna memastikan warisan leluhur ini tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang.

Senada dengan hal itu, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan bahwa upaya proteksi anak di ranah digital harus diimbangi dengan stimulus di dunia nyata. Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang gerak bebas untuk bersosialisasi dan mengenal kebudayaan lokal secara langsung demi mendukung tumbuh kembang fisik serta mental mereka yang optimal.

Sinergi ini diwujudkan melalui pelaksanaan Festival "Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari" di Jakarta, yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk mengenalkan kembali permainan tradisional seperti congklak, gasing, hingga ular naga. Acara ini sekaligus mendukung implementasi regulasi perlindungan anak dalam sistem elektronik (PP TUNAS).