JAKARTA - Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memicu kekhawatiran luas tentang potensi degradasi kemampuan berpikir manusia. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, fenomena pengalihan fungsi kognitif kepada teknologi bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum era AI, masyarakat modern telah terbiasa mempercayakan sebagian proses mental mereka kepada berbagai perangkat, mulai dari peta kertas hingga mesin pencari internet.
Konsultan senior neurologi di Dharamshila Narayana Hospital, Delhi, Dr. MS Panduranga, menegaskan bahwa sejarah ketergantungan manusia terhadap alat bantu kognitif sudah berlangsung cukup panjang. Peta konvensional, misalnya, sudah sejak lama menggantikan kemampuan otak dalam mengolah informasi arah secara mandiri. Kalkulator kemudian membuat banyak orang meninggalkan kebiasaan berhitung manual, sementara GPS semakin memanjakan pengguna dalam hal navigasi. Mesin pencari internet pun mengubah cara manusia mengakses pengetahuan, menjadikan segala informasi tersedia hanya dalam hitungan detik.
Perbedaan mendasar terletak pada cakupan dan intensitas dampak yang ditimbulkan AI. Teknologi ini tidak sekadar membantu satu aspek kognitif tertentu, melainkan mampu menulis, bernalar, hingga menciptakan konten sesuai permintaan penggunanya. Dr. Panduranga menilai bahwa otomatisasi yang melekat pada AI menjadikan risiko penurunan kemampuan berpikir jauh lebih signifikan dibandingkan teknologi-teknologi pendahulunya.
"Ketika AI banyak digunakan untuk mengingat, bernalar, atau memecahkan masalah, otak dengan cepat belajar bahwa ia tidak perlu lagi melakukan pekerjaan itu sendiri, dan seiring waktu, ini dapat secara diam-diam mengubah bagaimana informasi diproses dan disimpan," ungkap Panduranga sebagaimana dilaporkan Hindustan Times pada Kamis (25/6) dan dikutip dari Antara.
Salah satu ancaman serius yang disoroti adalah tergerusnya spontanitas dalam menghasilkan gagasan orisinal. Ketika seseorang terbiasa langsung beralih ke AI tanpa terlebih dahulu berupaya mengingat atau menyelesaikan persoalan secara mandiri, otak kehilangan latihan penting yang seharusnya memperkuat daya ingat dan mempertajam nalar. Kebiasaan mendapatkan jawaban secara instan juga dinilai berpotensi memecah konsentrasi, karena pikiran menjadi terlatih mengharapkan respons cepat alih-alih mempertahankan fokus dalam durasi yang lebih panjang.
Lebih lanjut, Dr. Panduranga memperingatkan bahwa kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah dapat mengalami pelemahan apabila ketergantungan terhadap AI berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi upaya berpikir mandiri. AI, menurutnya, menyentuh wilayah-wilayah kognitif yang selama ini menjadi domain eksklusif kemampuan berpikir independen manusia.
Meski demikian, melarang penggunaan AI secara total bukanlah jawaban yang tepat. Menurut pakar neurologi tersebut, yang perlu dibenahi adalah pola pemanfaatannya. Penggunaan pasif perlu dihindari, dan AI sebaiknya diposisikan sebagai instrumen pendukung yang melengkapi proses belajar serta mendorong kreativitas, bukan menggantikannya sepenuhnya.
"Cobalah menjawab pertanyaan apa pun secara mandiri terlebih dahulu, lalu gunakan AI untuk menguji, memperbaiki, atau menyempurnakan alasan dan pemikiran Anda," saran Dr. Panduranga. Pendekatan ini diyakini dapat menjaga ketajaman fungsi kognitif di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan.