Selama ini, pemenuhan gizi sebelum dan selama masa kehamilan identik sebagai tanggung jawab mutlak seorang ibu. Namun, sebuah penelitian terbaru dari Brasil mematahkan anggapan tersebut dengan mengungkapkan bahwa pola makan calon ayah sebelum proses pembuahan memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan dan tumbuh kembang bayi yang akan dilahirkan.

Studi ilmiah ini menunjukkan bahwa kebiasaan pria mengonsumsi makanan ultra-proses atau siap saji dapat memicu peradangan sistemik dalam tubuh. Kondisi ini kemudian menurunkan kualitas sperma dan mengubah aktivitas genetik yang diwariskan kepada calon anak melalui mekanisme epigenetika, yaitu perubahan aktivitas gen tanpa mengubah susunan DNA dasarnya.

Peneliti utama studi ini, Daniela Sartorelli dan Mariana Rinaldi Carvalho, menjelaskan bahwa gaya hidup sang ayah secara langsung memengaruhi gen bernama IGF-II. Gen yang diwariskan dari garis paternal ini memegang peran krusial dalam mengatur pertumbuhan janin di dalam kandungan. Jika ayah kerap mengonsumsi makanan tidak sehat, aktivitas gen tersebut dapat terganggu, yang berujung pada potensi bayi lahir dengan berat badan di atas rata-rata.

Di sisi lain, dampak berbeda terlihat pada pola konsumsi ibu. Ibu hamil yang mengonsumsi makanan ultra-proses pada awal kehamilan (hingga usia 16 minggu) cenderung melahirkan bayi dengan berat badan lebih rendah, tinggi badan lebih pendek, serta lingkar kepala yang lebih kecil. Hal ini disebabkan oleh minimnya kandungan nutrisi mikro dan makro pada makanan olahan pabrikan untuk menopang tumbuh kembang janin secara optimal.

Makanan ultra-proses sendiri merujuk pada produk pangan industri yang mengandung bahan tambahan seperti pengawet, pemanis buatan, pewarna, dan penguat rasa. Contoh nyata dari produk ini meliputi minuman bersoda, mi instan, sosis, nugget, daging olahan, hingga camilan manis kemasan yang jamak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Para ahli mengingatkan bahwa bayi yang lahir dengan berat badan ekstrem, baik terlalu rendah maupun terlalu tinggi, menghadapi risiko kematian yang lebih besar pada awal kehidupan. Selain itu, anak yang lahir dengan bobot berlebih rentan mengalami keterlambatan motorik seperti terlambat merangkak dan berjalan, serta berisiko tinggi mengidap penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, gangguan jantung, dan kanker saat beranjak dewasa.