Pemerintah pusat bergerak cepat dalam mengoordinasikan penanganan darurat pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui rapat koordinasi daring yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, sejumlah kementerian dan lembaga negara dikerahkan secara paralel menuju lokasi terdampak guna mempercepat proses evakuasi dan penyaluran bantuan.
Rapat koordinasi darurat ini juga dihadiri oleh Gubernur NTT yang tengah berada di Sikka, salah satu kawasan terdampak paling parah. Dalam arahannya, Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah penyelamatan korban yang diduga masih tertimbun runtuhan bangunan, penanganan warga yang terluka, serta penyediaan fasilitas kesehatan sementara di lapangan. Presiden Prabowo Subianto dilaporkan turut memantau perkembangan situasi dan memastikan dukungan logistik darurat dari pemerintah pusat berjalan efektif melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, meminta kepala daerah di NTT untuk segera menetapkan status tanggap darurat bencana guna mengaktifkan pos komando (posko) terpadu. Pengaktifan posko ini krusial untuk memudahkan validasi data korban, koordinasi pencarian, serta pengelolaan logistik. Sebagai langkah awal, BNPB telah memobilisasi bantuan kemanusiaan dari gudang logistik regional di Flores Timur langsung ke titik-titik bencana.
Sinergi lintas kementerian juga terus dimaksimalkan untuk memulihkan kondisi darurat di NTT. Badan SAR Nasional (Basarnas) mengerahkan unit penyelamat khusus dari Bali dan Nusa Tenggara Barat untuk menopang evakuasi. Sementara itu, Kementerian Sosial mulai menyalurkan bantuan makanan dan kebutuhan harian dari gudang Kupang ke wilayah Nagekeo dan Sikka, serta mendirikan dapur umum dan layanan dukungan psikososial bagi para penyintas.
Dari sektor infrastruktur dan kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum langsung mengerahkan alat berat guna membersihkan material longsor yang memutus akses jalan darat. Kementerian Kesehatan turut mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk mengoordinasikan pelayanan medis darurat. Adapun Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa meski terminal di lima bandara mengalami kerusakan, landasan pacu (runway) tetap aman digunakan untuk lalu lintas udara, termasuk operasional helikopter dan pesawat pembawa bantuan kemanusiaan.