Presiden Prabowo Subianto menyoroti pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dinilai membawa tantangan besar bagi Indonesia. Perubahan teknologi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga menyentuh pendidikan, tata kelola pemerintahan, ekonomi, hingga kesiapan sumber daya manusia.

Menurut Presiden, kemajuan AI perlu direspons secara serius melalui peningkatan kapasitas nasional. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dinilai harus bergerak bersama agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan mampu mengambil peran lebih strategis dalam ekosistem digital global.

Sorotan terhadap AI ini juga sejalan dengan dorongan pemerintah untuk memperkuat hubungan dengan kalangan perguruan tinggi. Presiden sebelumnya menyampaikan keinginannya untuk lebih rutin berdialog dengan para rektor dan akademisi, karena kampus dipandang sebagai ruang penting untuk membaca arah perubahan zaman sekaligus merumuskan solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Perkembangan AI memang menghadirkan peluang besar, mulai dari peningkatan efisiensi layanan publik, percepatan riset, otomasi industri, hingga inovasi di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga memunculkan risiko seperti pergeseran lapangan kerja, penyalahgunaan data, kesenjangan keterampilan digital, dan tantangan etika.

Karena itu, kesiapan regulasi, penguatan literasi digital, serta pengembangan talenta teknologi menjadi agenda penting yang perlu diprioritaskan. Dengan pendekatan yang tepat, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan AI sebagai alat untuk memperkuat daya saing nasional sekaligus menjaga kepentingan masyarakat luas.