Raksasa teknologi global, Google, bersiap mengakuisisi data operasional internal milik Spirit Airlines dengan nilai transaksi mencapai US$ 10 juta. Langkah strategis ini diambil Alphabet, perusahaan induk Google, untuk memperkuat basis data dalam melatih model kecerdasan buatan (AI) serta pengembangan produk teknologi masa depan mereka.
Data yang diakuisisi mencakup berbagai arsip komunikasi dan operasional maskapai, mulai dari surat elektronik karyawan, riwayat percakapan Microsoft Teams, lembar kerja, agenda kalender, hingga data pemasaran. Guna menjaga aspek privasi, Spirit Airlines memastikan seluruh data tersebut akan melalui proses penghapusan identitas pribadi (de-identification) sebelum diserahkan, serta menegaskan tidak ada informasi sensitif pelanggan yang turut dijual.
Meski kesepakatan telah tercapai, proses pelepasan aset ini masih harus menunggu lampu hijau dari hakim pengadilan kebangkrutan Amerika Serikat. Dalam proses perebutan aset data ini, Google bersaing ketat dengan Mercor, sebuah perusahaan pengembang data AI, yang sebelumnya sempat mengajukan penawaran senilai US$ 7,5 juta.
Penjualan aset informasi ini menjadi salah satu upaya Spirit Airlines untuk memperoleh dana segar setelah maskapai penerbangan bertarif rendah tersebut menghentikan operasionalnya pada Mei lalu. Maskapai asal AS ini terpaksa mengambil langkah pailit akibat tekanan beban utang yang menumpuk serta lonjakan biaya operasional dan bahan bakar yang tinggi.