Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mempercepat pengembangan berbagai teknologi strategis guna memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang. Langkah ini diambil sebagai strategi krusial untuk mendongkrak daya saing global Indonesia dalam dua hingga tiga dekade mendatang.

Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa kapasitas inovasi suatu negara berbanding lurus dengan kesejahteraan ekonominya. Merujuk pada Global Innovation Index (GII) 2025, jajaran negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia, seperti Swiss dan Korea Selatan, selalu menempati peringkat teratas dalam indeks inovasi global tersebut.

Dalam pemaparannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Arif menjabarkan sejumlah sektor riset prioritas. Di antaranya adalah pengembangan teknologi semikonduktor demi mengurangi ketergantungan pada cip impor, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Teknologi AI kini bahkan telah diintegrasikan untuk menyokong Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satunya lewat alat pintar 'Food Guard' yang mendeteksi dan menjaga kualitas makanan selama proses distribusi.

Selain itu, BRIN juga memprioritaskan riset di bidang teknologi genomik untuk mendukung kemandirian obat-obatan, benih pertanian, dan bioindustri lokal. Sementara itu, teknologi kuantum turut dikembangkan guna memperkuat sistem keamanan siber dan komputasi masa depan.

Di sektor energi dan kedaulatan wilayah, BRIN membidik penguasaan teknologi nuklir serta antariksa secara holistik. Khusus untuk nuklir, persiapan diarahkan agar Indonesia mampu menguasai seluruh rantai pasok teknologi secara mandiri, mulai dari pengolahan bahan mentah uranium hingga pengelolaan limbah reaktor, saat era Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) resmi dimulai.