Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menilai gestur akrab antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar simbol seremonial. Bagi PDIP, kedekatan itu menunjukkan hubungan politik yang tetap terjaga meski kedua partai berada pada posisi berbeda dalam dinamika pemerintahan.

Ketua Bidang Sumber Daya DPP PDIP Said Abdullah menyebut hubungan antara Megawati dan Prabowo dibangun di atas fondasi panjang sebagai sahabat politik. Menurut dia, perbedaan garis kepartaian tidak membuat komunikasi kedua tokoh tersebut terputus, apalagi berubah menjadi permusuhan.

“Keteladanan ini semestinya juga diikuti jajaran fraksi. Kedua fraksi dapat tetap berdiskusi, bertukar pandangan, dan membahas kebijakan secara cair, meski pada beberapa isu terdapat perbedaan sikap,” kata Said dalam keterangan resminya, Selasa (2/6).

Said menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang menjadi dasar kuat hubungan Megawati dan Prabowo. Pertama, keduanya memiliki jejak pertemanan politik yang panjang. Megawati dan Prabowo pernah maju bersama dalam Pemilihan Presiden 2009, saat Megawati menjadi calon presiden dan Prabowo sebagai calon wakil presiden.

Meski pada kontestasi politik berikutnya kerap berada di kubu berbeda, Said menilai persahabatan keduanya tidak luntur. Ia menyebut relasi tersebut tidak hanya dikenal publik melalui momen-momen informal, tetapi juga tumbuh dari rasa saling menghormati yang konsisten.

Alasan kedua, kata Said, adalah kesamaan pandangan dalam hal ideologi kebangsaan. Ia menilai penugasan Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mencerminkan pengakuan terhadap kapasitas kenegarawanan Megawati dalam merawat nilai-nilai Pancasila.

Menurut Said, urusan Pancasila berada di atas kepentingan politik praktis. Karena itu, ia memandang Prabowo memberi ruang penghormatan kepada Megawati sebagai tokoh yang dinilai memiliki komitmen kuat terhadap ideologi negara.

Ketiga, Said menyebut kedua tokoh tersebut sama-sama menempatkan politik dalam kerangka kepentingan bangsa dan negara. Perbedaan posisi PDIP dan Gerindra, menurut dia, tidak dipahami sebagai pertentangan personal, melainkan bagian dari mekanisme demokrasi.

Ia juga menyinggung pernyataan Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI pada 20 Mei 2026. Dalam forum itu, Prabowo menyampaikan apresiasi kepada PDIP yang berada di luar pemerintahan serta menilai fungsi pengawasan dari oposisi penting untuk menjaga keseimbangan jalannya pemerintahan.

Keakraban Prabowo dan Megawati tampak saat keduanya menghadiri upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (1/6). Seusai acara, keduanya terlihat meninggalkan lokasi dengan tersenyum dan bergandengan tangan, sebagaimana terlihat dalam siaran daring kegiatan tersebut.

Dalam acara itu, Prabowo hadir bersama Megawati yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga turut hadir dalam peringatan tersebut.

Bagi PDIP, momen tersebut menjadi pesan politik bahwa kompetisi dan perbedaan sikap tidak harus menghapus ruang dialog. Said menilai relasi Prabowo dan Megawati dapat menjadi contoh bahwa politik kebangsaan semestinya dijalankan dengan penghormatan, kedewasaan, dan orientasi pada kepentingan negara.