JAKARTA — Para ilmuwan menemukan indikasi bahwa paus sperma di Laut Mediterania tidak berkomunikasi dengan cara yang seragam. Dua kelompok paus yang hidup di wilayah berbeda diketahui menggunakan pola bunyi klik dengan tempo berlainan, sehingga para peneliti menyebutnya menyerupai dialek atau aksen pada manusia.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin bioakustikus Taylor Hersh dari University of Bristol bersama ahli biologi laut Luke Rendell dari University of St Andrews. Keduanya meneliti komunikasi paus sperma di kawasan Mediterania timur dan barat, lalu menemukan perbedaan ritme yang cukup jelas di antara kedua kelompok tersebut.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B, tim peneliti menganalisis ribuan rekaman suara paus yang dikumpulkan selama hampir 20 tahun. Dari data itu, mereka mempelajari 5.291 coda, yakni rangkaian klik pendek yang digunakan paus sperma untuk saling berkomunikasi.
Paus sperma berbeda dari paus bungkuk yang dikenal melalui nyanyian panjangnya. Mamalia laut ini berinteraksi lewat klik-klik singkat yang tersusun dalam pola tertentu. Bagi paus sperma, coda bukan sekadar suara, melainkan penanda sosial yang membantu mereka mengenali keluarga, kelompok, hingga komunitas yang lebih luas.
Hasil analisis menunjukkan paus sperma di Mediterania barat, terutama di sekitar Kepulauan Balearic, Spanyol, lebih sering memakai pola klik dengan tempo relatif lambat. Sebaliknya, paus di Mediterania timur, khususnya sekitar Palung Hellenic dekat Yunani, menghasilkan pola serupa tetapi dengan ritme yang lebih cepat.
Perbedaan itu mungkin terdengar tipis bagi telinga manusia. Namun, bagi paus sperma, variasi tempo tersebut dapat menjadi ciri penting untuk membedakan identitas kelompok. Para ilmuwan menilai kondisi ini mirip dengan terbentuknya aksen regional pada manusia ketika kelompok yang berasal dari populasi sama hidup terpisah dalam jangka waktu panjang.
Hersh mengatakan, populasi paus sperma Mediterania selama ini kerap dianggap sebagai satu kelompok budaya dengan dialek yang sederhana. Namun, penelitian terbaru ini memperkuat dugaan bahwa struktur komunikasi mereka lebih beragam dari perkiraan sebelumnya.
Hal yang membuat temuan ini penting adalah kemungkinan bahwa perubahan pola komunikasi tersebut bukan dipicu oleh evolusi genetik, melainkan oleh pembelajaran sosial. Anak paus belajar berkomunikasi dari induk dan kelompoknya. Dengan demikian, pola suara diwariskan melalui proses belajar, bukan semata-mata melalui DNA.
Fenomena itu dikenal sebagai evolusi budaya, yakni perubahan perilaku atau tradisi yang diturunkan antargenerasi melalui interaksi sosial. Selama ini, konsep tersebut lebih sering dikaitkan dengan manusia, tetapi riset pada paus sperma menunjukkan bahwa budaya juga dapat berkembang pada spesies lain.
Paus sperma sendiri dikenal sebagai salah satu mamalia laut dengan kehidupan sosial yang kompleks. Mereka hidup dalam kelompok keluarga yang erat, menerapkan pengasuhan bersama, dan mempertahankan hubungan sosial melalui sistem komunikasi yang terstruktur.
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian tentang paus sperma terus menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi hewan ini mungkin jauh lebih rumit dibandingkan dugaan lama. Proyek internasional CETI atau Cetacean Translation Initiative pada 2024 bahkan melaporkan adanya unsur komunikasi yang menyerupai struktur bahasa, termasuk variasi ritme dan kombinasi bunyi.
Bagi komunitas ilmiah, temuan dialek paus sperma di Mediterania membuka peluang lebih luas untuk memahami bagaimana budaya terbentuk di luar manusia. Jika kelompok paus yang terpisah dapat mengembangkan cara berkomunikasi yang berbeda, maka identitas kelompok, tradisi, dan pembelajaran sosial tampaknya bukan keistimewaan manusia semata.