Selama ini, masyarakat awam sering meyakini bahwa melewatkan sesi pemanasan adalah satu-satunya penyebab utama cedera saat berolahraga. Padahal, meski pemanasan krusial untuk menyiapkan otot dan sistem saraf agar lebih siap beraktivitas, langkah tersebut bukanlah jaminan mutlak seseorang terbebas dari risiko cedera.

Pakar nutrisi dan kebugaran, Varnit Yadav, menekankan bahwa pemanasan berfungsi untuk meningkatkan elastisitas otot melalui pengaturan aliran darah yang optimal. Tanpa tahapan ini, efisiensi latihan akan menurun dan ketegangan otot tidak akan teratasi dengan baik. Namun, dr. Andhika Raspati, SpKO, spesialis kedokteran olahraga, meluruskan pandangan keliru tersebut dengan menegaskan bahwa cedera tetap bisa mengintai siapa saja, bahkan setelah melakukan pemanasan yang ideal.

Menurut dr. Dhika, faktor utama penyebab cedera adalah saat intensitas aktivitas fisik atau beban latihan melampaui kapasitas jaringan tubuh seseorang. Artinya, pemanasan yang benar hanyalah bagian dari upaya meminimalisir risiko, bukan perisai mutlak. Selain itu, pemilihan metode peregangan pun sering kali salah kaprah; banyak pelaku olahraga lebih memilih peregangan statis daripada dinamis sebelum memulai inti latihan.

"Untuk memulai, lebih baik gunakan gerakan dinamis karena aktivitas utama olahraga biasanya juga bersifat dinamis," ujar dr. Dhika. Ia juga mengingatkan pentingnya fase pendinginan untuk mengembalikan sirkulasi darah dan otot ke kondisi semula, di mana pada tahap inilah peregangan statis justru menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan saat memulai.

Sebagai panduan praktis, National Health Service menyarankan rangkaian pemanasan ringan seperti jalan di tempat selama tiga menit, *heel digs* selama satu menit, serta latihan koordinasi seperti mengangkat lutut dan *shoulder rolls*. Dengan menerapkan pola yang benar, diharapkan masyarakat dapat berolahraga secara lebih aman dan terukur tanpa harus terjebak pada mitos seputar pencegahan cedera.