Tepat pada 8 Juli 2011, perhatian dunia tertuju ke Kennedy Space Center, Florida, Amerika Serikat. Di lokasi tersebut, ribuan pasang mata menyaksikan momen bersejarah saat pesawat ulang-alik Atlantis melesat ke angkasa, membawa misi STS-135 yang menjadi penanda berakhirnya era kejayaan program Space Shuttle NASA.
Program yang telah berjalan selama 30 tahun sejak penerbangan perdana Columbia pada 12 April 1981 ini, telah mengubah wajah eksplorasi antariksa dengan konsep wahana yang dapat digunakan kembali. Selama tiga dekade, armada yang terdiri dari lima pesawat—Columbia, Challenger, Discovery, Atlantis, dan Endeavour—telah menyelesaikan 135 misi dengan total jarak tempuh mencapai 542 juta mil.
Perjalanan panjang ini tidak lepas dari dinamika yang luar biasa, mulai dari keberhasilan pembangunan Stasiun Antariksa Internasional (ISS) hingga tragedi memilukan yang merenggut nyawa kru Challenger pada 1986 dan Columbia pada 2003. Meski duka menyelimuti, program ini tetap menjadi pilar utama bagi Amerika Serikat dalam menempatkan astronaut serta riset ilmiah ke orbit Bumi.
Sebagai penutup, Atlantis membawa modul logistik Raffaello untuk memastikan keberlangsungan operasional ISS ke depannya. Dengan diawaki oleh Komandan Chris Ferguson, Pilot Doug Hurley, serta spesialis misi Sandy Magnus dan Rex Walheim, misi ini berakhir manis saat Atlantis mendarat dengan selamat pada 21 Juli 2011.
Kini, Atlantis telah dipensiunkan dari tugas terbangnya dan menetap sebagai artefak sejarah di Kennedy Space Center Visitor Complex. Peninggalan program Space Shuttle tetap menjadi warisan penting bagi kemajuan teknologi dan kolaborasi internasional manusia di luar angkasa.