Dunia hiburan tanah air tengah berduka atas kepergian komedian Temon. Sang seniman mengembuskan napas terakhir akibat serangan jantung, sebuah kondisi medis yang dipicu oleh riwayat penyakit hipertensi yang telah lama diidapnya.
Rambu, putri kelima mendiang, mengungkapkan bahwa ayahnya merupakan sosok pribadi yang sangat kuat dan cenderung tertutup perihal kondisi kesehatannya. Selama hidupnya, Temon jarang sekali menampakkan keluhan rasa sakit di hadapan anak-anaknya, sehingga kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus rasa kehilangan yang luar biasa bagi pihak keluarga di rumah duka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Karakter Temon yang gemar memendam keluhan medis ini sejalan dengan karakteristik hipertensi yang kerap dijuluki sebagai 'silent killer'. Kondisi tekanan darah tinggi sering kali tidak menunjukkan gejala fisik yang jelas, namun secara perlahan dapat merusak organ vital seperti jantung, ginjal, hingga otak jika tidak dikelola dengan pengawasan medis yang ketat.
Merujuk pada data Kementerian Kesehatan RI, seseorang dinyatakan menderita hipertensi apabila tekanan darah sistol mencapai ≥ 140 mmHg dan/atau diastol ≥ 90 mmHg. Bahaya utama dari hipertensi bukan hanya terletak pada risiko kematian mendadak, melainkan akumulasi kerusakan organ yang terjadi secara diam-diam dalam jangka waktu yang panjang.
Sejumlah ahli kardiologi menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap sinyal-sinyal kecil yang dikirimkan tubuh sebelum terjadi komplikasi fatal seperti serangan jantung atau stroke. Kasus yang menimpa mendiang Temon menjadi pengingat bagi masyarakat luas agar lebih disiplin dalam memantau tekanan darah serta melakukan deteksi dini demi mencegah risiko komplikasi yang tidak disadari.