Gumoh atau keluarnya kembali sedikit susu setelah menyusu merupakan kondisi yang jamak dialami oleh bayi baru lahir. Kendati sering kali memicu kecemasan pada orang tua, fenomena ini umumnya bersifat fisiologis atau normal seiring dengan proses penyempurnaan sistem pencernaan sang buah hati.
Spesialis Anak Konsultan Gastroentero Hepatologi dari Eka Hospital MT Haryono, Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A. (K), memaparkan bahwa kapasitas lambung bayi yang masih terbatas serta fungsi katup lambung yang belum optimal menjadi pemicu utama gumoh. Akibatnya, kelebihan cairan susu akan dengan mudah mengalir keluar kembali melalui mulut.
Menurut dr. Eva, salah satu kekeliruan yang kerap memicu gumoh adalah pemberian susu yang melebihi kapasitas tampung lambung bayi. Bayi yang sebenarnya sudah kenyang terkadang masih terus menyusu, sehingga sisa susu yang tidak tertampung akan terdorong keluar secara alami sebagai mekanisme proteksi tubuh.
Namun, orang tua diimbau untuk tetap jeli dalam membedakan gumoh biasa dengan gejala klinis yang memerlukan penanganan medis. Salah satu indikasi bahaya yang paling mencolok adalah apabila gumoh keluar dengan tekanan kuat atau menyemprot. Tekanan kuat tersebut dapat menjadi indikasi awal adanya potensi sumbatan atau kelainan struktural pada saluran pencernaan anak.
Selain cara keluarnya cairan, grafik pertumbuhan bayi juga menjadi parameter krusial yang tidak boleh diabaikan. Jika bayi sering mengalami gumoh tetapi berat badannya tetap naik secara konsisten sesuai kurva pertumbuhan, maka kondisinya relatif aman. Sebaliknya, penurunan atau mandeknya berat badan menjadi alarm bahwa nutrisi penting terbuang sia-sia dan tidak terserap secara optimal.
Jika menemukan tanda-tanda tidak wajar tersebut, dr. Eva menyarankan agar orang tua segera membawa bayinya ke fasilitas kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut. Pemeriksaan diagnostik lanjutan seperti ultrasonografi (USG) abdomen dapat dilakukan untuk mendeteksi sedini mungkin gangguan pencernaan dan mencegah komplikasi tumbuh kembang.