Kromosom Y selama ini dikenal sebagai penentu utama identitas biologis laki-laki. Namun, dunia medis kini mencermati fenomena yang disebut mosaic loss of Y chromosome (mLOY), yakni kondisi di mana kromosom Y menghilang dari sebagian sel tubuh pria seiring dengan proses penuaan. Fenomena ini telah menjadi subjek riset intensif, salah satunya melalui studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Molecular Sciences.
Secara mekanis, para peneliti menduga bahwa mLOY dipicu oleh kesalahan pembelahan sel atau mitosis. Ketidakstabilan ini terjadi karena kromosom Y tidak memiliki protein CENP-B yang berperan dalam menjaga kestabilan pembelahan. Tanpa perlindungan tersebut, kromosom Y lebih rentan terfragmentasi dan hilang saat sel membelah diri. Proses ini sering kali dianggap sebagai indikator stres kinetik pada materi genetik manusia yang terakumulasi seiring bertambahnya usia.
Data dari National Library of Medicine menunjukkan adanya korelasi antara mLOY dengan berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari risiko penyakit kardiovaskular hingga beberapa jenis kanker, seperti kanker prostat, kandung kemih, dan kolorektal. Fenomena ini pun kini dipandang sebagai penanda biologis atau biomarker yang dapat memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan pria di masa depan.
Meskipun demikian, para ahli menekankan perlunya kehati-hatian dalam menginterpretasikan hasil riset tersebut. Saat ini, mLOY dikategorikan sebagai penanda biologis yang berkaitan dengan penuaan, bukan sebagai penyebab tunggal (kausalitas langsung) dari penyakit-penyakit yang disebutkan. Penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan untuk memastikan sejauh mana mekanisme mLOY memengaruhi perkembangan patologis dalam tubuh manusia.