Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan produsen yang mandiri. Melalui pembangunan kapabilitas teknologi nasional yang komprehensif, BRIN menargetkan penguatan sektor-sektor vital seperti pangan, energi, kesehatan, hingga pertahanan dan keamanan negara.

Kepala BRIN, Arif Satria, menyampaikan arah kebijakan riset tersebut saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan sekitar 150 periset di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (6/8/2026). Dalam kesempatan itu, Arif memaparkan bahwa fondasi riset nasional kini ditopang oleh fasilitas strategis yang tersebar di berbagai penjuru tanah air.

Jaringan infrastruktur riset Indonesia kini mencakup fasilitas berstandar global, mulai dari reaktor nuklir, observatorium terbesar di kawasan Asia Tenggara, laboratorium genomik mutakhir, hingga pusat komputasi performa tinggi yang masuk jajaran 500 terbaik dunia. Selain itu, BRIN juga mengoperasikan fasilitas uji coba untuk teknologi kedirgantaraan, perkeretaapian, peroketan, serta rekayasa kelautan.

Di sektor ketahanan energi, salah satu inovasi andalan yang sedang dikembangkan adalah teknologi Metal Organic Framework (MOF). Inovasi ini diproyeksikan mampu menekan impor gas alam secara signifikan, dengan potensi penghematan anggaran subsidi LPG domestik mencapai Rp26 triliun per tahun.

Selain itu, lompatan teknologi lain ditunjukkan melalui rencana peluncuran Satelit NEO-1 pada awal tahun 2027. Satelit ini akan menyuplai data citra satelit mandiri guna mendukung sektor maritim, kehutanan, mitigasi bencana, serta pertanian. BRIN juga secara proaktif mempersiapkan teknologi nuklir sejak dini agar Indonesia siap dan mandiri ketika kelak memutuskan memasuki era Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Menanggapi paparan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penguasaan sains dan teknologi sebagai pilar utama kemajuan bangsa. Presiden menggarisbawahi bahwa kesuksesan penguasaan teknologi ini mutlak membutuhkan dukungan sistem pendidikan nasional yang kokoh sebagai fondasi dasarnya.