SURABAYA — Sebuah survei lapangan yang digelar oleh mahasiswa Peminatan Epidemiologi 2026 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) mengungkap adanya kesenjangan signifikan antara pemahaman warga tentang demam berdarah dengue (DBD) dan penerapan langkah pencegahan secara nyata di lingkungan permukiman Kota Surabaya. Meskipun mayoritas masyarakat dinilai memiliki pengetahuan memadai, upaya pencegahan di level rumah tangga masih menyisakan banyak celah.
Kegiatan survei ini berlangsung pada Jumat (19/6/2026) di wilayah Kelurahan Kalijudan, Kecamatan Mulyorejo, yang berada dalam cakupan kerja Puskesmas Kalijudan. Sebanyak delapan kelompok mahasiswa diterjunkan untuk memeriksa minimal 10 rumah di setiap zona pengamatan. Mereka menggunakan kuesioner Knowledge, Attitude, Practice (KAP) untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku warga terhadap pencegahan DBD, sekaligus melakukan observasi langsung terhadap tempat-tempat penampungan air yang rawan menjadi sarang jentik nyamuk.
Laura Navika Yamani, dosen pembimbing mata kuliah Epidemiologi Penyakit Tropis sekaligus Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR, menjelaskan bahwa pemeriksaan mencakup beragam kontainer mulai dari bak mandi, ember, pot bunga, tempat minum hewan peliharaan, hingga wadah-wadah kecil lain yang berpotensi menampung air. Selama pelaksanaan, para mahasiswa didampingi oleh Kader Surabaya Hebat (KSH) guna memperlancar akses ke rumah-rumah warga.
Dari delapan titik lokasi yang diperiksa, hasil pengamatan menunjukkan variasi kondisi yang cukup mencolok antarwilayah. Hanya dua titik, yakni RT 2 RW 4 dan RT 3 RW 5, yang berhasil meraih Angka Bebas Jentik (ABJ) sempurna sebesar 100 persen, artinya seluruh rumah yang disurvei di kedua lokasi tersebut terbebas dari keberadaan jentik nyamuk.
Sebaliknya, beberapa wilayah lain justru masih berada di bawah target nasional ABJ sebesar 95 persen yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. RT 1 RW 4 dan RT 4 RW 5, misalnya, hanya mencatatkan ABJ 80 persen. Angka ini mengindikasikan masih ditemukannya sejumlah rumah dengan kontainer berisi jentik nyamuk yang belum tertangani.
Temuan menarik lainnya adalah kecenderungan sebagian warga yang masih mengandalkan fogging atau pengasapan sebagai solusi utama penanggulangan DBD. Padahal, menurut Laura, pendekatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus — menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas, ditambah langkah perlindungan tambahan — merupakan metode paling efektif untuk memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.
Selain itu, penggunaan larvasida atau bubuk abate belum menjadi kebiasaan rutin di kalangan warga. Kontainer berukuran kecil seperti vas bunga, tempat minum hewan peliharaan, talang air, maupun wadah bekas kerap luput dari perhatian saat aktivitas pembersihan rumah. Kondisi semacam ini, menurut Laura, menjadi titik rawan berkembang biaknya nyamuk pembawa virus dengue.
Bagi para mahasiswa, kegiatan ini melampaui sekadar tugas akademis di ruang kuliah. Mereka mendapatkan pengalaman langsung menerapkan metode epidemiologi di tengah masyarakat, mulai dari mengidentifikasi faktor risiko, menganalisis data lapangan, hingga menyusun rekomendasi berbasis kondisi nyata.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan seminar hasil yang diselenggarakan di Puskesmas Kalijudan pada Selasa (23/6/2026). Forum tersebut dihadiri oleh dosen pembimbing, penanggung jawab program DBD Puskesmas Kalijudan, serta Kader Surabaya Hebat. Setiap kelompok memaparkan temuan pengamatannya dan berdiskusi mengenai berbagai tantangan dalam pengendalian DBD bersama tenaga kesehatan setempat.
Laura berharap hasil survei ini dapat menjadi masukan berharga bagi Puskesmas Kalijudan untuk memperkuat program pemberantasan sarang nyamuk serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian DBD tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan, melainkan sangat bergantung pada konsistensi warga dalam menerapkan perilaku pencegahan setiap hari.