Akademisi dari Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Asia Malang mengambil langkah nyata dalam memberdayakan petani kopi di Desa Taji, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB), perguruan tinggi ini berupaya mengubah pola pikir petani agar tidak sekadar memanen, tetapi juga mampu mengolah kopi lokal hingga memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi.
Selama ini, mayoritas petani di kawasan lereng Gunung Bromo tersebut terbiasa menjual hasil panen dalam bentuk ceri kopi basah atau gelondong dengan harga berkisar Rp18.000 per kilogram. Melalui program pendampingan yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun anggaran 2026 ini, petani diarahkan untuk memproses hasil panen menjadi biji kopi mentah siap sangrai (green bean) maupun kopi sangrai (roasted bean) demi memperluas jangkauan pasar.
Ketua Tim PDB ITB Asia Malang, Agus Purnomo Sidi, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam program ini adalah mengubah kebiasaan petani yang menginginkan perputaran uang secara cepat dengan langsung menjual buah segar setelah dipetik. Oleh karena itu, edukasi dilakukan secara bertahap agar mereka memahami potensi margin keuntungan yang jauh lebih besar jika kopi diolah terlebih dahulu sebelum dipasarkan.
Pendampingan yang berlangsung dari Mei hingga Juli 2026 ini melibatkan tim lintas disiplin, termasuk akademisi dari Universitas Merdeka Malang serta keterlibatan aktif mahasiswa. Agar transfer pengetahuan berjalan efektif, metode yang digunakan dirancang secara informal melalui diskusi santai di kebun kopi dan warung-warung lokal guna menjangkau 20 petani serta 20 pemuda desa setempat.
Desa Taji sendiri telah menjadi desa binaan ITB Asia Malang sejak tahun 2023. Melalui kelanjutan program berbasis inkubasi bisnis ini, diharapkan muncul wirausaha muda baru yang mampu mengelola industri kopi dari hulu ke hilir, sekaligus memperkuat identitas kopi Desa Taji di pasar nasional secara berkelanjutan.