Rumah lelang Sotheby's di New York bersiap melelang kerangka Tyrannosaurus rex yang diberi nama "Gus" pada 14 Juli 2026. Spesimen prasejarah yang berasal dari masa Maastrichtian ini diprediksi akan terjual dengan harga fantastis, berkisar antara 20 juta hingga 30 juta dollar AS, atau setara dengan Rp361 hingga Rp542 miliar.

Fosil dengan panjang 11,6 meter dan tinggi 3,8 meter ini ditemukan di Harding County, Dakota Selatan, oleh Gary "Gus" Licking. Memiliki tingkat keutuhan mencapai 63 persen, Gus menjadi aset berharga yang menyimpulkan jejak hidup dinosaurus tersebut jutaan tahun lalu, termasuk bukti luka gigitan dan cedera tulang rusuk yang sempat pulih.

Proses penggalian dan perakitan kerangka ini memakan waktu total lima tahun yang dikerjakan oleh tim paleontolog dari Theropoda Expeditions. Thomas Heitkamp, presiden tim tersebut, menyebut upaya ini sebagai tantangan besar layaknya menyusun teka-teki raksasa yang telah terpisah selama 67 juta tahun di bawah lapisan tanah Dakota Selatan.

Namun, di balik megahnya lelang ini, komunitas akademik menyuarakan kekhawatiran mendalam. Tingginya minat kolektor privat terhadap fosil membuat museum publik dan institusi riset kesulitan bersaing secara finansial. Profesor Susannah Maidment dari Natural History Museum London memperingatkan bahwa privatisasi fosil dapat menghambat validasi data ilmiah, mengingat jurnal bereputasi sering kali menolak penelitian yang didasarkan pada spesimen yang tidak bisa diakses publik.

Di sisi lain, Cassandra Hatton dari Sotheby's membela praktik ini sebagai insentif penting bagi para pemburu fosil independen. Menurutnya, komersialisasi adalah jembatan untuk memastikan fosil tetap ditemukan dan diselamatkan dari erosi alami sebelum hilang selamanya. Perdebatan ini menjadi potret ketegangan antara nilai ekonomi tinggi artefak purbakala dengan kewajiban melestarikan data ilmiah bagi kepentingan pendidikan global.