Raksasa teknologi asal China, Alibaba Group, mengambil langkah strategis dengan mengintegrasikan seluruh lini teknologi kecerdasan buatan (AI) miliknya ke dalam satu ekosistem terpadu. Konsolidasi yang mencakup pengembangan chip internal, infrastruktur komputasi awan (cloud), model bahasa besar Qwen, hingga berbagai aplikasi AI ini ditargetkan rampung pada paruh kedua tahun 2026 demi mempercepat adopsi teknologi secara global.
Strategi ambisius ini dijalankan melalui unit baru bernama Alibaba Token Hub (ATH). Unit bisnis yang dibentuk pada Maret 2026 ini berada langsung di bawah kepemimpinan CEO Alibaba Group, Eddie Wu. ATH dibentuk untuk menaungi berbagai divisi penting, termasuk Tongyi Laboratory, layanan Model-as-a-Service (MaaS), serta unit bisnis Qwen, Wukong, dan AI Innovation.
Melalui struktur baru ini, Alibaba berupaya menyatukan rantai nilai AI dari hulu ke hilir—mulai dari riset model dasar, distribusi layanan, hingga implementasi aplikasi praktis baik untuk konsumen maupun korporasi. Kepemilikan teknologi chip mandiri dan infrastruktur cloud internal memberikan keunggulan kompetitif bagi Alibaba untuk mengontrol penuh efisiensi komputasi dan pelatihan model kecerdasan buatan mereka.
Guna mendukung ekosistem ini, Alibaba juga menggelontorkan investasi infrastruktur AI bernilai fantastis, mencapai 53 miliar dolar AS. Dana tersebut dialokasikan untuk memperluas jaringan pusat data global ke sejumlah negara strategis, termasuk Malaysia, Jepang, Prancis, dan Meksiko. Saat ini, Alibaba Cloud telah mengoperasikan 105 zona ketersediaan yang tersebar di 32 wilayah global guna menjamin keamanan dan kepatuhan data lokal bagi para pelanggannya.