Kondisi memprihatinkan kini tengah dihadapi oleh Heru Baskoro (84), putra kedua dari tokoh Proklamasi Kemerdekaan RI, Sayuti Melik. Di usia senjanya, Heru harus berjuang melawan penyakit diabetes dan penurunan fungsi penglihatan yang cukup parah. Bersama sang istri, ia kini tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana berukuran dua petak di kawasan Bojong Menteng, Rawalumbu, Kota Bekasi.

Meskipun kondisi fisiknya terus melemah dan daya ingatnya mulai terkikis, ingatan Heru langsung bangkit saat mengenang sosok ayahnya. Sayuti Melik, yang dikenal sejarah sebagai tokoh yang mengetik naskah Proklamasi 1945, di mata Heru adalah figur yang sangat disiplin, tegas, namun bersahaja. Heru juga mengingat ayahnya sebagai pribadi yang gemar bermain catur di warung makan sederhana.

Selain kedisiplinan sang ayah, Heru membagikan cerita kedekatan Sayuti Melik dengan Presiden Soekarno. Hubungan keduanya melampaui rekan perjuangan biasa karena saling memahami pola pikir masing-masing. Sebelum Bung Karno berpidato di suatu daerah, Sayuti kerap menyiapkan informasi mendalam mengenai situasi lokal agar isi pidato sang Proklamator benar-benar relevan dengan kondisi masyarakat setempat.

Lahir di Semarang pada 1 Juni 1942, Heru merupakan anak dari pasangan pejuang bangsa, Sayuti Melik dan Surastri Karma Trimurti. Ia menikah dengan Treyzia Noviani (65), cucu dari pahlawan nasional KH Agus Salim. Pasangan ini sempat menetap di Kanada sebelum akhirnya memutuskan kembali ke tanah air demi menjalani pengobatan mata untuk Heru.

Kini, mereka harus bertahan hidup di rumah sewaan seharga Rp 560.000 per bulan tanpa kehadiran anak. Ruangan sempit tersebut dipenuhi tumpukan koper dan barang-barang seadanya, dengan kasur tanpa ranjang untuk beristirahat. Penglihatan Heru kini sangat terbatas; mata kanannya sudah tidak berfungsi, sementara mata kirinya hanya mampu menangkap sedikit cahaya. Ia membutuhkan operasi transplantasi kornea buatan yang tindakan medisnya harus dilakukan di luar negeri seperti Kanada, Amerika Serikat, atau Jerman, namun terhambat oleh keterbatasan biaya.

Di tengah segala keterbatasan ekonomi dan kesehatan tersebut, Heru tetap menyimpan asa untuk sembuh agar dapat terus bermanfaat bagi sesama. Ia juga menitipkan pesan mendalam bagi generasi muda Indonesia agar selalu menghargai sejarah perjuangan kemerdekaan serta senantiasa menjaga kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan negara.