Kesuksesan tidak datang dalam semalam. Hal ini dibuktikan oleh Nurun Nazary, alumnus Teknik Industri Universitas Syiah Kuala (USK) yang kini sukses mengibarkan bendera PT Kana Marun Sejahtera melalui jenama parfum lokal berbasis nilam Aceh, Meutuah. Di balik keberhasilannya saat ini, tersimpan perjuangan panjang yang dimulai dari usaha kecil-kecilan sejak tahun 2019.

Langkah awal Nurun di dunia wirausaha jauh dari kata mewah. Bermodalkan uang jajan yang disisihkan sedikit demi sedikit, ia mengawali bisnis dengan menitipkan makanan ringan, berjualan pisang cokelat, hingga membuka lapak seblak kaki lima. Tantangan demi tantangan harus ia hadapi, mulai dari penggusuran tempat jualan hingga terpaksa memanfaatkan kamar kos berukuran tiga meter sebagai tempat tinggal sekaligus gudang penyimpanan barang dagangan.

Kehidupan sebagai mahasiswa Teknik Industri USK memberikan landasan teoretis yang kuat bagi Nurun. Di bangku kuliah, ia belajar bagaimana merancang sistem operasional, mengelola rantai pasok bahan baku, menjaga kualitas produk, hingga memimpin tim dengan efisien. Pengetahuan akademis ini ia kombinasikan dengan keaktifannya mengikuti berbagai kompetisi wirausaha dan pelatihan bisnis guna memperluas jaringan.

Titik balik bisnis Nurun terjadi saat ia mengikuti pelatihan pengolahan minyak nilam (patchouli). Aceh dikenal memiliki salah satu komoditas nilam terbaik di dunia, namun potensinya belum tergarap optimal. Terinspirasi dari kegiatan tersebut, ia memberanikan diri beralih dari sektor kuliner ke industri wewangian dengan meluncurkan lini produk parfum premium berlabel Meutuah.

Kini, korporasi yang dirintisnya telah berkembang pesat dengan mempekerjakan lima orang staf. Di bawah bendera PT Kana Marun Sejahtera, Meutuah memproduksi parfum dengan nama varian seperti Meurah, Suke, dan Haliya, serta melayani jasa maklon untuk merek lain. Selain itu, lini usahanya merambah ke sektor sanitasi melalui Meutuah Clean yang menyediakan produk sabun cuci piring untuk kebutuhan industri kuliner lokal.

Bagi Nurun yang lulus sebagai Sarjana Teknik pada tahun 2025, setiap kegagalan di masa lalu merupakan modal berharga untuk membangun fondasi bisnis yang lebih kokoh. Ia berharap Meutuah dapat terus berkembang melampaui pasar Aceh, membuka lapangan pekerjaan baru, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal di kancah nasional.