Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menekankan pentingnya adaptasi teknologi bagi generasi baru apoteker. Dalam kuliah umum di hadapan mahasiswa baru Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jatinangor, Taruna memaparkan pergeseran global ke arah pelayanan kesehatan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan pengobatan presisi (precision medicine).

Menurut Taruna, era pengobatan modern kini mulai meninggalkan metode konvensional satu obat untuk semua pasien. Pendekatan baru ini berfokus pada terapi yang dirancang khusus sesuai dengan profil genetik, gaya hidup, dan kondisi lingkungan masing-masing individu. Transformasi ini membutuhkan integrasi data kesehatan yang masif, mulai dari rekam medis elektronik hingga pemanfaatan teknologi Big Data.

Dari sisi regulasi, BPOM juga terus bertransformasi dengan memanfaatkan AI di seluruh siklus pengawasan obat. Teknologi ini diimplementasikan mulai dari tahap riset awal, proses registrasi pre-market, hingga pemantauan pasca-pasar menggunakan Internet of Things (IoT) dan blockchain guna memastikan transparansi rantai distribusi obat di Indonesia.

Kendati teknologi berkembang pesat, Taruna menegaskan bahwa peran manusia tidak akan pernah tergantikan. Calon farmasis masa depan dituntut memiliki keseimbangan kompetensi, yang mencakup kefasihan digital, literasi data, keputusan klinis yang kuat, serta kepekaan kemanusiaan yang tinggi agar teknologi tetap terkendali secara etis.

Dekan Fakultas Farmasi Unpad, Prof. apt. Auliya Abdurrohim Suwantika, Ph.D., menyambut baik arahan tersebut dengan mendorong kolaborasi erat antara akademisi, industri, dan pemerintah. Salah satu langkah konkret Unpad adalah dengan membuka Program Studi Sarjana Rekayasa Kosmetik guna menjawab tantangan perkembangan industri kecantikan modern.