PT Kereta Api Indonesia (Persero) resmi menjalin kemitraan strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempercepat pengembangan teknologi perkeretaapian di tanah air. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dalam acara "BRIN Goes to Industry 5" di Jakarta, dengan fokus utama pada perumusan dan penerapan sistem keamanan Automatic Train Protection (ATP).

Teknologi ATP dirancang sebagai sistem proteksi otomatis guna mengamankan perjalanan kereta api melalui tiga fungsi vital. Sistem ini mampu mencegah kereta melewati sinyal berhenti (Signal Passed at Danger), mengendalikan laju kecepatan kereta secara otomatis, serta mengirimkan informasi operasional secara langsung kepada masinis demi meminimalisasi potensi kelalaian manusia.

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menjelaskan bahwa penerapan ATP di Indonesia membutuhkan kajian mendalam agar sesuai dengan karakteristik rel dan operasional lokal. Melalui pendekatan Proof of Product, KAI dan BRIN akan menguji purwarupa teknologi ini secara terbatas untuk memvalidasi performa, mengidentifikasi risiko, serta merumuskan langkah mitigasi sebelum diterapkan dalam skala luas.

Pengembangan teknologi ini dijadwalkan berlangsung dalam tiga tahapan terstruktur hingga pertengahan 2027. Pada fase awal yang dimulai triwulan ketiga 2026, KAI membentuk kelompok kerja bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian dan BRIN untuk mengkaji kesesuaian teknologi terhadap iklim lokal, termasuk tantangan cuaca ekstrem dan sambaran petir di Indonesia.

Tahap berikutnya akan difokuskan pada perancangan kriteria desain operasional serta penjajakan pasar bersama penyedia teknologi global. Puncaknya, pada triwulan terakhir 2026 hingga pertengahan 2027, tim gabungan bakal melaksanakan uji lapangan dan evaluasi kelaikan sistem secara komprehensif pada sarana maupun prasarana kereta api.

Kolaborasi lintas sektor ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah karena dinilai mampu mempercepat hilirisasi riset nasional ke sektor industri riil. Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, menekankan bahwa sinergi ini tidak hanya bertujuan melahirkan inovasi teknologi, melainkan juga memberikan dampak konkret terhadap peningkatan keselamatan transportasi publik serta keberlanjutan lingkungan.