Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyanggah pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio terkait ruang lingkup Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Teheran dan Washington. Iran menilai kesepakatan tersebut tidak dapat dipersempit hanya sebagai urusan bilateral kedua negara.

Melalui unggahan di akun X pada Rabu (24/6/2026), Baghaei menegaskan bahwa MoU yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 dengan mediasi Pakistan memuat kewajiban penghentian operasi militer secara segera dan permanen di seluruh kawasan. Menurut Teheran, cakupan itu juga meliputi Lebanon.

Pernyataan Baghaei muncul setelah Rubio menyebut jalur perundingan Amerika Serikat dengan Iran berbeda dari pembicaraan terkait Israel dan Lebanon. Rubio menyampaikan hal itu saat tiba di Abu Dhabi dalam rangkaian kunjungan ke tiga negara Teluk Persia untuk menjelaskan isi kesepakatan kepada sekutu-sekutu Washington di kawasan.

Rubio menyatakan masa depan Lebanon harus ditentukan oleh pemerintah berdaulat negara tersebut. Ia juga menegaskan Amerika Serikat akan berkomunikasi langsung dengan Beirut dalam menangani persoalan yang berkaitan dengan Lebanon.

Namun, pemerintah Iran berpandangan berbeda. Teheran menyebut MoU tersebut sejak awal dipahami sebagai kerangka untuk meredakan permusuhan secara menyeluruh di berbagai front, bukan sekadar mengatur relasi langsung Iran dan Amerika Serikat.

Ketegangan tafsir itu mengemuka di tengah pernyataan Rubio bahwa penghentian permusuhan di seluruh kawasan sulit dicapai selama kelompok-kelompok perlawanan masih melakukan serangan rudal dan pesawat nirawak. Pernyataan tersebut muncul setelah Menteri Urusan Militer Israel, Israel Katz, menyatakan pasukan Israel tidak akan ditarik dari Lebanon selatan meski terdapat permintaan dari Amerika Serikat.

Baghaei menilai penjelasan Rubio merupakan pembacaan yang keliru terhadap substansi MoU. “Tidak seorang pun akan tertipu oleh penafsiran seperti itu,” tulisnya.

Menurut Baghaei, perdamaian di Asia Barat tidak akan terwujud selama kebijakan intervensi militer Amerika Serikat tetap berjalan. Ia juga menuding Israel, yang disebut sebagai sekutu Washington, masih melanjutkan operasi militer di kawasan.

Iran turut menegaskan bahwa tafsir Rubio tidak sejalan dengan pemahaman Teheran maupun para mediator. Dalam pandangan Iran, kesepakatan itu menjadi dasar untuk menghentikan permusuhan secara luas, termasuk dalam konteks Lebanon.

Sebelumnya, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, memperingatkan bahwa kegagalan menjalankan klausul pertama MoU mengenai penghentian perang di seluruh front dapat berdampak pada arus energi di kawasan Asia Barat.

Laporan yang sama menyebut Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 20 Juni setelah menilai Amerika Serikat tidak mampu memastikan kepatuhan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata di Lebanon selatan.

Putaran pertama perundingan tingkat tinggi Iran dan Amerika Serikat di Swiss disebut telah menempatkan MoU sebagai kerangka utama untuk membahas berbagai persoalan yang masih diperselisihkan, termasuk isu Lebanon.