Para investor di sektor teknologi kini mulai bersikap lebih selektif dalam menanamkan modal pada perusahaan yang berfokus pada kecerdasan buatan (AI). Tren evaluasi ulang ini dipicu oleh lonjakan belanja modal infrastruktur yang dinilai berisiko membebani pertumbuhan laba bersih serta menekan valuasi saham di masa mendatang.

Meskipun permintaan pasar terhadap layanan AI terus menunjukkan tren positif, para analis dari ING mengingatkan bahwa peningkatan belanja modal secara masif akan berdampak pada naiknya biaya penyusutan. Kondisi ini berpotensi membatasi kapasitas perusahaan dalam melakukan pembelian kembali saham (buyback), yang selama ini menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga ekuitas di sektor teknologi.

Dinamika pasar sepanjang tahun 2026 mencerminkan ketidakpastian tersebut, di mana saham-saham raksasa seperti Microsoft dan Oracle mengalami tekanan, sementara Alphabet justru mencatatkan kenaikan. Volatilitas ini menegaskan keraguan investor mengenai seberapa cepat investasi besar di bidang AI dapat dikonversi menjadi keuntungan nyata yang sepadan dengan nilai kapitalisasinya.

Hingga saat ini, perusahaan-perusahaan besar masih mampu membiayai ambisi infrastruktur mereka melalui arus kas operasional yang kuat. Namun, para pengamat memperingatkan bahwa jika pendapatan dari sektor AI tidak tumbuh secepat proyeksi biaya, investor cenderung akan kurang bersedia memberikan premi penilaian yang tinggi bagi perusahaan-perusahaan teknologi tersebut.

Selain itu, persaingan di industri chip AI diprediksi akan semakin tajam. Inisiatif perusahaan seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon dalam mengembangkan chip internal mereka sendiri menjadi tantangan tersendiri bagi dominasi pemain besar seperti Nvidia. Fokus investor kini beralih pada kemampuan perusahaan untuk menjaga margin keuntungan sembari tetap berkompetisi di tengah kebutuhan modal yang sangat besar.