Integrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam ranah akademis kini mulai menyentuh disiplin ilmu sejarah. Tantangan utama dalam penggunaan model bahasa besar (LLM) saat ini adalah fenomena halusinasi, di mana sistem cenderung menghasilkan narasi yang terdengar logis namun secara faktual keliru. Hal ini tentu menjadi hambatan serius bagi penelitian sejarah yang menuntut ketepatan data, penulisan tahun, hingga relasi antartokoh.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, sebuah penelitian dari mahasiswa sistem dan teknologi informasi ITB mengembangkan model mesin pencari sejarah dengan pendekatan Retrieval Augmented Generation (RAG). Berbeda dengan sistem AI konvensional yang hanya mengandalkan ingatan internal, sistem berbasis RAG bekerja dengan cara merujuk pada basis data dokumen yang telah dikurasi sebelum menyusun jawaban. Analogi sederhananya, AI berperan layaknya seorang dokter yang memeriksa rekam medis pasien sebelum memberikan diagnosa, bukan sekadar menebak berdasarkan memori.

Dalam implementasinya, model ini diuji menggunakan literatur Sejarah Indonesia periode 1945-1998 yang dikenal sarat akan kompleksitas peristiwa dan dinamika politik. Sistem bekerja dalam dua tahap: pertama, melakukan pengambilan data (retrieval) dari sumber tepercaya, dan kedua, menyusun narasi (generation) berdasarkan data tersebut. Keunggulan utamanya terletak pada fitur transparansi, di mana setiap jawaban dilengkapi dengan rujukan dokumen dan nomor halaman yang dapat diverifikasi oleh pengguna.

Meskipun RAG terbukti efektif dalam meminimalisir kesalahan pada topik sejarah yang spesifik atau jarang dibahas, efektivitasnya tetap bergantung pada kualitas basis dokumen yang digunakan. Temuan ini membuka ruang bagi pengembangan lebih lanjut, seperti integrasi dengan arsip digital Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) melalui teknologi Optical Character Recognition (OCR).

Lebih luas lagi, inovasi ini dipandang sebagai bentuk AI-mediated public history. Dengan memanfaatkan RAG, akses terhadap informasi sejarah yang kredibel kini menjadi lebih mudah dijangkau publik, menjembatani jurang antara riset sejarah akademis yang mendalam dengan kebutuhan masyarakat akan akses informasi sejarah yang cepat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.