China kembali menunjukkan kapabilitas teknologi dalam penanggulangan bencana melalui penggunaan jembatan apung mekanis yang dikerahkan oleh China Anneng Construction Group. Inovasi yang dijuluki sebagai 'Bahtera Nuh' ini berfungsi sebagai feri darurat portabel yang dirancang khusus untuk melintasi area yang terendam air, dengan kapasitas angkut mencapai 500 penumpang dalam satu kali perjalanan.
Pemanfaatan teknologi ini terbukti krusial saat operasi penyelamatan di wilayah Guigang, Guangxi, pekan lalu. Tercatat sebanyak 6.000 warga berhasil dievakuasi dari kepungan banjir menggunakan jembatan ponton bertenaga mesin tersebut. Efektivitas operasional ini menjadi bukti nyata transformasi tim tanggap darurat yang berakar dari unit teknik konstruksi militer dalam menangani situasi krisis berskala besar.
Selain jembatan ponton, otoritas China mengintegrasikan penggunaan drone pengangkut berat untuk mendistribusikan logistik makanan dan melakukan evakuasi di titik-titik yang sulit dijangkau helikopter konvensional. Pendekatan terkoordinasi ini tidak hanya mempercepat proses penyelamatan, tetapi juga menjadi standar baru dalam manajemen bencana global yang mendapat apresiasi luas dari komunitas internasional.
Hingga saat ini, upaya penanggulangan dampak dari Badai Tropis Maysak masih terus berlangsung. Sekitar 8.000 personel gabungan dikerahkan untuk membantu lebih dari 130.000 warga yang terdampak luapan Sungai Yu. Meski teknologi telah membantu menyelamatkan banyak jiwa, pemerintah setempat tetap mencatat duka mendalam dengan 39 korban jiwa yang dilaporkan, terutama akibat jebolnya bendungan di wilayah Nanning.