Pasar keuangan dalam negeri menunjukkan ketangguhan yang luar biasa di tengah berbagai sentimen global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis lalu. Performa positif ini terjadi di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan koreksi yang melanda bursa saham Amerika Serikat, Wall Street.
IHSG mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,1 persen atau naik 66,24 poin ke level 6.108,21. Penguatan indeks ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti Amman Mineral (AMMN), Bank Mandiri (BMRI), Astra International (ASII), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Aktivitas transaksi di bursa terbilang semarak dengan nilai mencapai Rp13,22 triliun, yang juga diwarnai aksi beli bersih investor asing di pasar negosiasi melalui transaksi jumbo saham PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK).
Langkah perkasa juga ditunjukkan oleh mata uang Garuda. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berhasil menguat tajam sebesar 0,44 persen ke posisi Rp17.980 per dolar AS. Pencapaian ini sekaligus membawa rupiah kembali ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS, mencerminkan posisi terkuatnya dalam sepekan terakhir. Penguatan mata uang domestik didorong oleh pelemahan indeks dolar AS setelah rilis data indeks harga produsen (PPI) Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar, memberi sinyal meredanya tekanan inflasi global.
Sektor riil nasional juga membawa kabar menggembirakan. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM melaporkan realisasi investasi sepanjang Semester I-2026 menembus Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Menariknya, porsi investasi di luar Pulau Jawa mendominasi dengan kontribusi sebesar 50,2 persen dari total investasi. Hong Kong secara mengejutkan mencatatkan lonjakan aliran modal masuk ke tanah air pada kuartal kedua, menggeser dominasi Singapura yang selama ini memimpin.
Sentimen positif domestik kian diperkuat oleh langkah bersejarah Presiden Prabowo Subianto yang meresmikan proyek strategis nasional gas Lapangan Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Proyek senilai Rp390 triliun ini akhirnya resmi dieksekusi setelah sempat tertunda selama 28 tahun. Dikelola oleh konsorsium Inpex, Pertamina, dan Petronas, proyek ini diharapkan mampu memperkokoh ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia Timur.
Meski pasar domestik dipenuhi katalis positif, pelaku pasar tetap diimbau waspada terhadap perkembangan eksternal. Gejolak bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz berisiko mengganggu jalur distribusi minyak dunia. Sementara itu, dari sektor olahraga, final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina pada awal pekan depan diprediksi turut memberikan stimulus jangka pendek bagi emiten konsumer dan ritel di dalam negeri.