Pemerintah Hong Kong mengambil langkah inovatif dalam mengatasi persoalan klasik yang telah lama meresahkan warganya: populasi tikus yang tak terkendali. Sejak 2024, otoritas setempat mengerahkan sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan (AI) guna memantau pergerakan hewan pengerat tersebut secara lebih akurat dan efisien.
Teknologi ini memanfaatkan jaringan kamera termal yang dipasang di berbagai titik strategis di seluruh kota. Kamera-kamera tersebut secara khusus merekam aktivitas tikus pada jam-jam malam, yakni periode ketika hewan pengerat ini paling aktif bergerak mencari makanan dan menjelajahi wilayah perkotaan.
Rekaman yang diperoleh selanjutnya diproses oleh sistem AI untuk menghasilkan sebuah indikator bernama Rodent Absence Rate (RAR), atau tingkat ketiadaan tikus. Indikator ini menunjukkan persentase gambar dari suatu lokasi yang tidak memperlihatkan keberadaan tikus. Semakin tinggi angka RAR, semakin rendah aktivitas tikus di kawasan tersebut. Sebaliknya, nilai RAR yang rendah menjadi sinyal bahwa suatu lokasi masih menghadapi persoalan infestasi serius dan membutuhkan penanganan intensif.
Data yang dihimpun Departemen Kebersihan Lingkungan dan Pangan Hong Kong sepanjang tahun lalu memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. Sejumlah kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai sarang tikus menunjukkan perbaikan signifikan berkat sistem pemantauan ini. Meskipun demikian, puluhan lokasi pengamatan masih mencatat nilai RAR di bawah 80 persen, yang berarti lebih dari seperlima gambar yang diambil di area tersebut masih menangkap keberadaan tikus.
Kalangan ahli mengapresiasi pemanfaatan AI dalam upaya pengendalian tikus, namun mengingatkan bahwa teknologi ini tidak bisa diandalkan sebagai satu-satunya solusi. Bobby Corrigan, pakar tikus perkotaan asal New York, menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif. "Kami mengukur sumber makanan yang tersedia, menghitung jumlah liang tikus di taman, lalu menggabungkan seluruh data tersebut untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh," jelasnya.
Corrigan juga menyoroti bahwa keberadaan tikus dalam jumlah besar sejatinya merupakan cerminan kondisi kebersihan suatu lingkungan. "Jika tikusnya banyak, itu menandakan kita belum menjaga lingkungan tersebut dengan baik," tegasnya.
Para pakar turut mengingatkan bahwa membasmi tikus hingga tuntas merupakan hal yang nyaris mustahil dilakukan, terutama di kota seperti Hong Kong. Hewan pengerat ini berkembang biak di jaringan saluran air dan sistem pembuangan bawah tanah yang sangat luas dan kompleks, menjadikan populasinya sulit dihitung secara pasti.
Oleh karena itu, keberhasilan program pengendalian tikus tidak semata-mata bergantung pada kecanggihan teknologi AI. Perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta meminimalkan ketersediaan sumber makanan bagi tikus dinilai sebagai faktor yang tak kalah krusial dalam menekan populasi hewan pengerat di wilayah perkotaan.