Momentum Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Peringatan ini menjadi alarm penting bagi para orang tua untuk memperhatikan kembali tumbuh kembang anak, salah satunya dengan memastikan kelengkapan imunisasi dasar seperti difteri, pertusis, tetanus, dan polio. Langkah preventif ini krusial di tengah persepsi keliru bahwa penyakit-penyakit tersebut telah sepenuhnya hilang dari lingkungan kita.

Kendati data WHO dan UNICEF menunjukkan adanya perbaikan cakupan imunisasi DTP secara global pada 2025, capaian tersebut rupanya belum kembali ke level sebelum pandemi COVID-19. Secara global, masih ada sekitar 13,5 juta bayi yang belum tersentuh vaksin sama sekali. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan mencatat cakupan imunisasi dasar lengkap baru menyentuh angka 80,2 persen pada 2025, menyisakan hampir 960.000 anak dalam kategori tanpa dosis atau belum pernah divaksinasi.

Dampak nyata dari penurunan cakupan imunisasi ini terlihat dari munculnya kembali status Kejadian Luar Biasa (KLB). Sepanjang beberapa tahun terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, hingga Papua melaporkan kasus kelumpuhan akut akibat polio. Tak hanya itu, kasus difteri dan pertusis (batuk rejan) juga kembali merebak di puluhan kabupaten dan kota, membuktikan bahwa penyakit yang dianggap sudah jarang dapat kembali mewabah jika pertahanan kelompok melemah.

Guna mengatasi tantangan ini, Kementerian Kesehatan telah menginisiasi penggunaan vaksin heksavalen sejak Oktober 2025 di beberapa wilayah percontohan seperti DIY, Bali, NTB, dan Papua. Vaksin ini menggabungkan perlindungan terhadap DPT, Hepatitis B, Hib, dan IPV dalam satu suntikan, sehingga mampu menyederhanakan jadwal imunisasi dan mempercepat terbentuknya kekebalan anak. Pilihan lain seperti vaksin DTaP-IPV juga menjadi solusi efektif karena menggunakan komponen pertusis aselular yang meminimalisasi efek samping demam pasca-suntikan.

Sesuai dengan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kemenkes, imunisasi DPT diberikan secara bertahap sejak bayi berusia 2 bulan, diikuti dengan dosis penguat (booster) pada usia sekolah. Bagi anak yang sempat melewatkan jadwal, program imunisasi kejar (catch-up) tetap dapat dilakukan setelah berkonsultasi dengan tenaga medis. Memastikan anak mendapatkan hak imunisasinya secara lengkap merupakan wujud nyata kasih sayang sekaligus langkah bersama dalam membangun kekebalan kelompok.