Pasar emas dunia kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (10/7/2026). Logam mulia ini tercatat melemah tipis sebesar 0,03% ke level US$ 4.120,08 per troy ons, sekaligus mencatatkan koreksi mingguan sebesar 1,31%.
Pelemahan harga emas saat ini dipicu oleh kembali memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran global terkait pasokan energi, yang kemudian mendorong harga minyak mentah Brent melonjak hingga 5,4% dalam sepekan terakhir.
Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, menjelaskan bahwa investor kini cenderung melepas aset logam mulia akibat ketidakpastian pasar yang tinggi. Kondisi ini membuat emas kehilangan daya tariknya karena para pelaku pasar lebih mewaspadai potensi lonjakan inflasi yang dipicu oleh tingginya harga energi.
Kenaikan harga minyak secara langsung memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve, akan mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat. Suku bunga yang tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas, karena investor lebih memilih instrumen dengan imbal hasil seperti obligasi dibandingkan menyimpan aset tanpa bunga.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar saat ini memproyeksikan peluang sebesar 69% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September mendatang. Sikap hawkish sejumlah pejabat bank sentral dalam risalah rapat terbaru turut memperkuat asumsi bahwa kebijakan ketat akan terus berlanjut hingga tekanan inflasi benar-benar mereda.
Para pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat pada pekan depan, serta pidato dari Ketua The Fed, Kevin Warsh. Pernyataan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan ekonomi global di tengah gejolak pasar komoditas saat ini.