Harga emas global kembali mencatatkan penurunan signifikan dalam dua hari perdagangan terakhir. Pada penutupan Selasa (7/7/2026), logam mulia ini ditutup pada posisi US$ 4.105,7 per troy ons, merosot sebesar 1,39%. Tren negatif tersebut berlanjut hingga Rabu pagi, di mana harga sempat menyentuh level US$ 4.096,72 per troy ons.
Koreksi harga ini terjadi di tengah sikap investor yang sangat berhati-hati menanti rilis risalah rapat Federal Reserve (The Fed). Meskipun sebelumnya harga sempat menyentuh titik tertinggi dalam dua pekan akibat data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lemah, pasar kini kembali mencemaskan komitmen bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga tinggi demi meredam inflasi.
Analisis dari Zaner Metals menunjukkan bahwa sentimen pasar mulai bergeser. Pelaku pasar kini melihat skenario higher for longer sebagai kebijakan yang paling rasional bagi The Fed. CME FedWatch Tool mencatat adanya peluang sebesar 60% bagi bank sentral untuk kembali mengerek suku bunga pada pertemuan bulan September mendatang.
Selain faktor moneter, ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan insiden di Selat Hormuz turut memengaruhi pergerakan pasar komoditas. Lonjakan harga minyak akibat situasi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi energi global. Dalam situasi suku bunga yang tetap tinggi, aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas cenderung kehilangan daya tariknya di mata para investor.
Di sisi lain, dinamika cadangan emas global tetap menunjukkan perlawanan. Bank Sentral China terpantau terus menambah porsi cadangan emasnya selama 20 bulan berturut-turut, mencapai 75,44 juta troy ons pada akhir Juni. Langkah ini sejalan dengan upaya Hong Kong untuk memperkuat posisi sebagai pusat perdagangan emas regional melalui peluncuran sistem kliring terpusat baru. Sementara itu, komoditas perak turut terimbas sentimen negatif dengan penurunan harga yang mencapai 3,38% pada penutupan perdagangan Selasa lalu.