Produsen elektronik lokal, Polytron, kini tengah menavigasi tantangan ekonomi yang cukup menantang guna menjaga performa segmen perabotan rumah tangga (home appliances) sepanjang semester II-2026. Perseroan mengakui bahwa prospek industri elektronik saat ini masih dibayangi oleh ketidakpastian kondisi ekonomi global dan domestik.

Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah serta fluktuasi harga minyak dunia menjadi faktor utama yang memicu kenaikan biaya produksi. Dampak dari kondisi ini memaksa perusahaan melakukan penyesuaian harga jual produk di pasar secara bertahap sejak awal tahun hingga mencapai kisaran 15%.

Meski sentimen cuaca panas dan fenomena El Nino semestinya menjadi katalis positif bagi penjualan pendingin ruangan (AC), faktor daya beli konsumen yang tertekan oleh kenaikan harga tetap menjadi kendala besar. Fenomena ini membuat permintaan pasar tidak setinggi yang diproyeksikan sebelumnya.

Sebagai langkah strategis, Polytron memilih untuk mengedepankan efisiensi operasional. Perusahaan memutuskan untuk merampingkan lini produk serta memangkas jumlah unit pada kategori yang memiliki performa penjualan rendah guna mengoptimalkan biaya produksi dan distribusi.

Dengan menerapkan langkah mitigasi tersebut, manajemen Polytron menargetkan perolehan nilai penjualan dari segmen home appliances pada tahun ini setidaknya mampu menyamai capaian tahun sebelumnya. Polytron saat ini tetap fokus mempertahankan eksistensi produk unggulannya, mulai dari kulkas, mesin cuci, hingga solusi tata udara untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di Indonesia.