Harga emas dunia mengalami tekanan jual yang signifikan, mencatatkan penurunan tajam hingga menyentuh level US$ 3.900 per troy ons pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Tren pelemahan ini telah berlangsung selama dua hari berturut-turut setelah komoditas logam mulia tersebut kehilangan hampir 3% nilainya pada sesi perdagangan sebelumnya.

Sentimen negatif ini dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah pasca-keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran. Kebijakan tersebut merespons langkah Teheran yang menutup jalur pelayaran strategis, yang kemudian memicu lonjakan harga minyak global sekitar 5%.

Analis pasar dari Forex.com, Fawad Razaqzada, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah secara langsung mendongkrak biaya energi dan transportasi. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran akan lonjakan inflasi yang memaksa Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi, atau bahkan menaikkannya, sebagai langkah preventif meredam tekanan harga.

Pasar kini menaruh perhatian besar pada testimoni Ketua The Fed, Kevin Warsh, di hadapan Kongres AS, serta rilis data ekonomi krusial seperti Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI). Mengingat sifat emas sebagai aset tanpa imbal hasil, potensi kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi sentimen pemberat utama bagi investor.

Dalam jangka pendek, para analis memperingatkan adanya risiko penurunan lebih lanjut. Jika tekanan jual terus berlanjut di tengah tren kenaikan harga energi, harga emas diprediksi dapat menembus ambang batas di bawah US$ 3.800, bahkan berpotensi menyentuh level US$ 3.500 per troy ons.

Selain emas, logam mulia perak juga terpantau melemah. Setelah mengalami koreksi sebesar 3,7% pada Senin kemarin, harga perak kembali terkoreksi tipis sebesar 0,37% ke posisi US$ 57,43 per troy ons pada perdagangan pagi ini.